Rabu, 07 November 2018

Murid itu Lepas Bebas


Rabu Pekan Biasa XXXI (H)
Flp. 2:12-17
Mzm. 27:1,4,13-14
Luk. 14:25-33




Flp. 2:12-17

2:12 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,
2:13 karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
2:14 Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,
2:15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,
2:16 sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.
2:17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.
2:18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.



Luk. 14:25-33

14:25 Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:
14:26 "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
14:27 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
14:28 Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
14:29 Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,
14:30 sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.
14:31 Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?
14:32 Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.
14:33 Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.



Murid itu Lepas Bebas

Saudara terkasih, menjadi murid Yesus itu perlu sikap lepas bebas. Mengapa demikian? Karena kita ikut DIA yang juga lepas bebas. Melepaskan kepentingan dan fokus pada perutusan yang bersumber dari sabda dan tindakan-Nya.
Tugas kita itu lebih dari segalanya, termasuk keluarga, orang tua, pasangan, ataupun dalam era modern ini adalah karir, teknologi, dan segala sesuatu yang melekat dan keakuan. Sikap ini diharapkan oleh Tuhan agar kita pun mampu menyerahkan seluruhnya ke dalam Penyelenggaraan Ilahi, menepikan apapun yang malah memisahkan atau menjauhkan kita daripada-Nya.
Sering kita merasa bahwa upaya kita,, kemampuan kita, otak kita, atau kesalehan kita itu mampu menjadi bekal, namun jika tidak hati-hati justru itu menjadi batu sandungan bagi kita karena kita fokus pada kita bukan pada DIA yang memanggil kita.
Memanggul salib juga kesatuan utuh menjadi murid Tuhan. Bagaimana orang terutama sebagai sebuah bangsa di Indonesia, Gereja Indonesia sering dihinggapi kecurigaan, tuduhan, dan sikap miring lainnya. Apakah itu membuat takut dan mundur? Atau tetap berani sebagai sebuah konsekuensi atas panggilan dan karunia Tuhan?
Tidak jarang kita dimusuhi, ditolak, atau tidak boleh menjadi ini dan itu karena agama, karena iman, dan karena panggilan Tuhan. Hal yang secara manusiawi tidak mudah, namun toh mampu kita jalani, karena ada DIA yang telah memilih kita itu akan juga memampukan dan selalu menguatkan.
Jika kita mudah terlena, takut, dan surut karena berbeda dengan lingkungan sekitar untuk apa iman kepada-Nya, nyatanya Tuhan sendiri ditolak, apalagi kita pengikut-Nya bukan? Menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan bukan berarti kita kemudian leha-leha dan tidak berbuat apa-apa, tidak demikian. Kita mengupayakan apa yang mampu kita lakukan, dan jika tidak lagi ada jalan, toh masih ada Tuhan yang akan menyelesaikan. BD.eLeSHa.

Selasa, 06 November 2018

Anugerah dan Sikap Penerimaan


Selasa Pekan Biasa XXXI (H)
Flp. 2:1-4
Mzm. 22:26b-30a,31-32
Luk. 14:15-24





Flp. 2:1-4

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
2:11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Luk. 14:15-24

14:15 Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah."
14:16 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang.
14:17 Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap.
14:18 Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan.
14:19 Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan.
14:20 Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.
14:21 Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.
14:22 Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat.
14:23 Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.
14:24 Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku."



Anugerah dan Sikap Penerimaan

Saudara terkasih, hari ini kita diajak merenungkan sabda Tuhan mengenai keselamatan sebagai anugerah pun perlu tanggapan yang sepadan dari kita. Benar bahwa keselamatan, atau berpesta itu adalah anugerah semata-mata dari Allah. Namanya berkat itu ya akan diberikan karena kasih dan cinta-Nya kepada manusia. Pemberian cuma-cuma.
Di lain pihak, kita sebagai manusia pun memiliki tanggung jawab untuk menjawab anugerah itu sebagaimana mestinya. Tidak bertepuk sebelah tangan. Ada tanggapan bahwa tawaran dan pemberian itu ditanggapi dengan positif.
Dalam bacaan tersebut, ada sikap di mana orang merasa bahwa ia bisa menunda sejenak, ada waktu untuk Tuhan dan keselamatan itu nanti dulu. Sangat realistis. Sering lahir keyakinan, nanti saja masa tua baru aktif kegiatan gereja. berbuat baik untuk bekal di sana, iya kalau sampai tua?
Sisi lain, bisa juga menjadi kepedean karena merasa sudah diselamatkan, ada jaminan keselamatan kemudian hidup seenaknya sendiri. Ini jelas tidak adil, ini bukan sifat sportif sebagaimana kehendak Tuhan. Tuhan itu Adil dan kita juga dituntut untuk bisa bersikap yang sama. Jadi tidak bisa seenaknya sendiri.
Apa yang perlu kita renungkan, resapi, dan jadikan pedoman adalah, bahwa keselamatan itu jelas anugerah. Berkat, karunia dari Tuhan karena cinta-Nya semata. Tidak ada upaya manusia yang bisa mengusahakan itu, hak sepenuhkan di tangan Tuhan kepada siapa DIA berkenan.
Namun, tetap bahwa kita yang terpilih, kita yang memperoleh anugerah itu harus mempertahankan dengan sikap yang menomorsatukan Tuhan. Tuhan adalah segalanya, Tuhan adalah prioritas di dalam seluruh hidup kita, karena IA terlebih dahulu memberikan kepada kita prioritas dan anugerah tak terbatas itu. BD.eLeSHa.


Senin, 05 November 2018

Kasih itu Memberikan Suka Cita, Bukan Mengharapkan Balasan


Senin Pekan Biasa XXXI (H)
Fil. 2:1-4
Mzm. 131:1,2,3
Luk. 14:12-14


Fil. 2:1-4

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.


Luk. 14:12-14

14:12 Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.
14:13 Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.
14:14 Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."




Kasih itu Memberikan Suka Cita, Bukan Mengharapkan Balasan

Saudara terkasih, hari ini kita diajak merenungkan sabda Tuhan, di mana ketika kita mengadakan perjamuan itu adalah memberikan perhatian dan kasih. Tidak berpamrih agar mendapatkan balasan atau menerima perlakuan yang sama. Jadi ingat dalam sebuah pemberitaan.
Seorang tunawisma yang dibelikan makanan siap saja dan didengarkan seorang gadis, ia berkisah bahwa ia menyesal menjadi gelandangan dan mengidap penyakit parah akibat obat-obatan terlarang. Ia sejatinya ingin membuat orang tuanya bangga, apadaya sekarang sudah meninggal, dan dia malah jadi gelandangan seperti ini.
Si gadis karena waktunya berangkat ke kantor, mohon diri, si gelandangan mengambil kertas bekas nota dan menuliskan sebuah pesan, terima kasih gadis cantik, kamu bukan saja menraktirku, namun juga menyelamatkan jiwaku. Tadinya aku mau bunuh diri, namun karena pemberian makanan dan perhatianmu membuat aku berubah pikiran.
Si gadis itu memberikan waktu, perhatian, bukan hanya makanan, pada orang yang tidak ada harapan untuk membalasnya. Ternyata luar biasa, malah mendapatkan apa yang sama sekali tidak ia bayangkan. Apa yang ia lakukan ternyata menggugah batin, bukan semata makanan yang akan berujung ke pembuangan itu.
Saudara terkasih, sering dalam budaya, adat istiadat, bahkan ada agama yang masih berhitung bagaimana berbuat baik untuk mendapatkan juga kebaikan. Do ut des, pamrih kadang pun di dalam relasi bersama dan di dalam Tuhan. Ada imbal balik atas perbuatan dan perilaku kita. Menjadi anak manis agar mendapatkan kasih sayang orang tua. Padahal tidak demikian. Mengundang pesta bagi orang yang biasa makan enak apa untungnya bukan? Apa berani mengundang orang yang tidak mampu? Di situlah kualitas dan di sanalah kehendak Tuhan di maksudkan. Melepaskan tanpa pamrh apa yang seharusnya memang dilakukan. Sikap berbeda dan radikal yang diperlukan sebagai pengikut Kristus. Ikut Kristus bukan biasa-biasa.BD.eLeSHa.

Minggu, 04 November 2018

Hukum Kasih yang Utama


HARI MINGGU PEKAN BIASA XXXI (H)
Ul. 6:2-6
Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab
Ibr. 7:23-28
Mrk. 12:28-34



Ul. 6:2-6

6:2 supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.
6:3 Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,


Ibr. 7:23-28

7:23 Dan dalam jumlah yang besar mereka telah menjadi imam, karena mereka dicegah oleh maut untuk tetap menjabat imam.
7:24 Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain.
7:25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.
7:26 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,
7:27 yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.
7:28 Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya.



Mrk. 12:28-34

12:28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?"
12:29 Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."
12:32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.
12:33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."
12:34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.




Hukum Kasih yang Utama

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan hukum kasih. Di mana Tuhan menyatakan hukum kasih itu mengasihi Tuhan Allah dengan seluruh akal budi, kekuatan, dan keseluruhan hidup kita, tanpa kecuali.
Perlu kita lihat lagi, apa yang telah kita lakukan demi Tuhan? Apakah sudah menomorsatukan, atau malah hanya menomorsekiankan Tuhan? Kita tilik dalam hati kita masing-masing, berapa lama waktu untuk berdoa, dibandingkan dengan waktu untuk bersosial media, atau dalam doa pun masih banyak waktu dan permohonan pusatnya ke dalam diri sendiri.
Berapa banyak orang yang takut dengan iman dan agama atau identitas keagamaan demi jabatan, pekerjaan, dan sejenisnya. Menyembunyikan nama baptis, atau pindah agama demi mendapatkan kenyamanan dan keamanan hidup. Apakah ini sudah mengasihi Tuhan dengan keseluruhan kita?
Mengasihi Tuhan dengan seluruh diri kita juga bisa kita lakukan, dengan pasrah dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya, kepada Penyelenggaraan Ilahi, tapi kecenderungan manusiawi adalah mengandalkan diri, teknologi, atau pergi ke mana yang bisa memberikan bantuan.
Hukum yang selanjutnya, mengasihi sesama seperti diri sendiri. Coba tengok di jalanan itu, apa yang terjadi? Adalah mementingkan diri sendiri. Mana duli menjadi kredo di jalanan, mau orang jatuh, mau basah kuyup karena masuk got atau terciprat air, tidak ada yang peduli. Pun ketika ada pembagian jatah dari pemerintah, orag mampu pun mengambil dan ikut mendaftar. Apa iya mereka memang seperti itu keadaannya? Egoisme dan memikirkan diri, apalagi berpikir bagi orang lain.
Sikap mengumpulkan makin parah dibandingkan mau berbagi. Bagaimana mengasihi sesama seperti diri sendiri ketika dengan keji mengambil hak orang lain tanpa perasaan. Apapun demi aku, keakuan menjadi nomor satu, belum lagi jika berbicara merawat orang tua.
Saudara terkasih, Tuhan telah mengasihi kita dengan paripurna, jika kita mengasihi Tuhan dan sesama itu bukan sebuah kewajiban, namun sebuah konsekuensi logis atas kasih yang kita terima. Pun mengasihi sesama, karena kita membutuhkan sesama di dalam hidup kita. Tidak ada manusia hidup tanpa memerlukan keberadaan orang lain. BD.eleSHa.

Sabtu, 03 November 2018

Kerendahhatian dan Kepekaan


Sabtu Biasa Pekan XXX (H)
Flp. 1:18-26
Mzm. 42:2,3,4,5bcd
Luk. 14:1.7-11



Flp. 1:18-26

1:18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,
1:19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.
1:20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.
1:21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
1:22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.
1:23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus -- itu memang jauh lebih baik;
1:24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.
1:25 Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,
1:26 sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.


Luk. 14:1.7-11

14:1 Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.
14:7 Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
14:8 "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu,
14:9 supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.
14:10 Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.
14:11 Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."




Kerendahhatian dan Kepekaan

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan firman Tuhan mengenai kerendahhatian dan kepekaan. Dunia kekinian penuh dengan hal-hal yang viral, kecepatan yang kadang melupakan kebenaran dan etika. Di sana medan dan arena pengabdian kita.
Kerendahhatian itu buah dari iman. Buah iman yang sangat diperlukan di dunia yang penuh dengan penghargaan akan materi. Meminta daripada memberi, mengumpulkan daripada berbagi. Bagaimana bisa berbagi dan mengampuni jika kita tidak beriman?
Relasi dengan Tuhan menjadi penentu untuk kita mampu berbuat itu semua. Melawan arus di tengah dunia, berani bersikap yang berbeda dengan pemahaman umum. Itu semua hanya ada ketika kita berada di dalam Tuhan. Tuhan yang memampukan kita memilih dan berbuat demikian.
Rendah harti bagi pelayanan. Rendah hati itu diperlukan dalam pelayanan, Bagaimana melayani jika tidak memiliki sikap rendah hati. Tinggi hati mana mampu untuk menjadikan kita pelayan. Sikap dunia yang minta dilayani sangat berat jika tanpa iman.
Melayani dengan rendah harti sebagaiana Yesus lakukan. Keteladanan Yesus yang Putera Allah mengambil rupa hamba, datang ke dunia jelas rendah hati. Melepaskan semua kedudukan, kemuliaan, dan kemegahan, bahkan nantinya wafat pun di dalam kehinaan salib.
Rendah hati salah satu indikasinya adalah peka, di hadapan umum. Minta dihargai, minta dilayani, jelas bukan rendah hati. Rendah hati dan tahu diri itu perlu kepekaan. Kepekaan itu hanya ada di dalam iman.
Iman itu akan memberikan dampak, buah, dan jelas tampak dalam hidup, yaitu rendah hati. Jika ada orang mengaku beragama, bahkan mengaku pemuka, namun tinggi hati, perlu merenungkan dan melhat ke dalam diri lagi. Pun bagi pemuka yang masih maunya dilayani pun bukan pengikut Kristus yang sejati. Yesus datang untuk melayani bukan dilayani, kitapun seyogyanya demikian. BD.eLeSHa.

Jumat, 02 November 2018

Peringatan Arwah Semua Orang Beriman


PERINGATAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN (U)
2 Mak. 12:43-46
Mzm. 130:1-2,3-4,5-6a,6b,7-8
1 Kor. 15:20-23
Yoh. 6:37-40



2 Mak. 12:43-46

12:43 Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan.
12:44 Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati.
12:45 Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.


1 Kor. 15:20-23

15:20 Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.
15:21 Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.
15:22 Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.
15:23 Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.


Yoh. 6:37-40

6:37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
6:38 Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.
6:39 Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.
6:40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."


Peringatan Arwah Semua Orang Beriman

Kemarin, kita memuliakan semua Orang Kudus dan berdoa memohon agar kita pun kelak bisa berbahagia bersama mereka di dalam surga sambil memandang wajah Allah, Bapa kita. Hari ini kita mengenang saudara-saudara kita yang telah meninggal namun masih berada di Api Penyucian. Bahkan seluruh bulan Nopember ini kita khususkan untuk berdoa dan berkorban untuk memohon kerahiman Allah atas mereka. Hal ini kita lakukan karena di dalam Yesus Kristus, Penyelamat semua orang yang, merindukan keselamatan dari Allah dengan tulus hati, kita tetap bersatu padu dengan mereka. Dalam iman akan Kristus itu, kita percaya bahwa apa yang kita namakan Persekutuan para Kudus meliputi baik kita yang masih hidup di dunia ini, maupun semua Orang Kudus di surga, dan semua orang yang telah meninggal. Bersama-sama kita membentuk dan terhimpun di dalam satu Gereja, yaitu Tubuh Mistik Kristus.
Hari ini kita secara khusus mengenang dan berdoa bagi arwah semua orang beriman yang telah meninggal dunia. Maka kiranya ada baiknya kita menyadari makna peristiwa kematian menurut ajaran iman kita. Bagi kita orang Kristen saat kematian sesungguhnya merupakan peristiwa puncak kehidupan. Hidup kita tidak lenyap, melainkan hanya diubah. Kita percaya bahwa sesudah pengembaraan kita di dunia ini selesai, tersedialah bagi kita kediaman abadi di surga. Kematian bagi kita merupakan saat kita mempercayakan diri secara total kepada Kristus, kebangkitan dan kehidupan kita saat perjumpaan abadi dengan Dia, pokok pengharapan kita, yang mengantar kita pulang ke rumah Bapa.
Atas dasar iman itu, kita memohon agar saudara-saudara kita yang telah meninggal dunia disucikan dari segala dosanya, dibebaskan dari segala hambatan dan noda, dan boleh menikmati kebahagiaan kekal di sisi kanan Allah, Bapa kita, serta boleh bersama-sama para kudus di surga memandang wajah Allah yang dirindukannya. Hari kenangan dan peringatan ini pun sekaligus memberi penghiburan rohani bagi kita, bahwa kelak kita akan berjumpa kembali dengan saudara-saudara yang telah mendahului kita, untuk bersama Maria memuji dan memuliakan Allah dalam persekutuan semua orang kudus. Kita pun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini dan pulang kepada Bapa di surga. Tetapi kita percaya bahwa hidup atau mati, kita tetap milik Kristus.Imankatolk.or.id


Kamis, 01 November 2018

HR Semua Orang Kudus


HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS  (P)
Why. 7:2-4,9-14
Mzm. 24:1-6
1Yoh. 3:1-3
Mat. 5:1-12


Why. 7:2-4,9-14

7:2 Dan aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut,
7:3 katanya: "Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!"
7:4 Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.
7:5 Dari suku Yehuda dua belas ribu yang dimeteraikan, dari suku Ruben dua belas ribu, dari suku Gad dua belas ribu,
7:6 dari suku Asyer dua belas ribu, dari suku Naftali dua belas ribu, dari suku Manasye dua belas ribu,
7:7 dari suku Simeon dua belas ribu, dari suku Lewi dua belas ribu, dari suku Isakhar dua belas ribu,
7:8 dari suku Zebulon dua belas ribu, dari suku Yusuf dua belas ribu, dari suku Benyamin dua belas ribu.
7:9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.
7:10 Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!"
7:11 Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah,
7:12 sambil berkata: "Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!"
7:13 Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: "Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?"
7:14 Maka kataku kepadanya: "Tuanku, tuan mengetahuinya." Lalu ia berkata kepadaku: "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.


1Yoh. 3:1-3

3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.
3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.


Mat. 5:1-12

5:1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
5:2 Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
5:12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."



Hari Raya Semua Orang Kudus

Hari raya ini mula-mula dirayakan di lingkungan Gereja Timur untuk menghormati semua saksi iman yang mati bagi Kristus dalam usahanya merambatkan iman Kristen. Di lingkungan Gereja Barat, khususnya di Roma, pesta ini bermula pada tahun 609 ketika Paus Bonifasius IV merombak Pantheon, yaitu tempat ibadat kafir untuk dewa-dewi Romawi, menjadi sebuah gereja. Gereja ini dipersembahkan kepada Santa Maria bersama para Rasul. Dahulu di Roma hari raya ini biasanya dirayakan pada hari minggu sesudah Pentekosta. Lama kelamaan pesta ini menjadi populer untuk menghormati para Kudus, baik mereka yang sudah diakui resmi oleh Gereja maupun mereka yang belum dan yang tidak diketahui.
Pesta hari ini dirayakan untuk menghormati segenap anggota Gereja, yang oleh jemaat-jemaat perdana disebut "Persekutuan para Kudus", yakni persekutuan semua orang yang telah mempercayakan dirinya kepada Yesus Kristus dan disucikan oleh Darah Anak Domba Allah. Secara khusus pada hari raya ini kita memperingati rombongan besar orang yang berdiri di hadapan takhta Allah, karena mereka telah memelihara imannya dengan baik sampai pada akhir pertandingan di dunia ini, sehingga memperoleh ganjaran yang besar di surga.
Di antara mereka yang berbahagia itu teristimewa tampil para Santo-santa, Beato-beata sebagai perintis jalan dan penuntun bagi kita. Para kudus yang berbahagia di surga itu bersama Santa Perawan Maria, Bunda Gereja, mendoakan kita agar tekun dalam perjuangan dan tabah dalam penderitaan. Bersama mereka kita nantikan kebangkitan badan. Dan bila Kristus menyatakan diri dalam kemuliaan, kita akan menjadi serupa dengan Dia. Pada saat itulah terjalin kesatuan kita yang sempurna dengan Kristus dan dengan semua saudara kita. Para kudus itu berbahagia karena mereka telah mengikuti Kristus.
Kebahagiaan dan kemuliaan mereka tak bisa kita lukiskan dengan kata-kata manusiawi. Sehubungan dengan itu Santo Paulus berkata: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1Kor 2:9) Ganjaran yang diterimanya dari Kristus adalah turut serta di dalam Perjamuan Perkawinan Anak Domba Allah. Air mata mereka telah dihapus sendiri oleh Yesus. Tentang itu Yohanes menulis: "Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan perkawinan Anak Domba." (Why 19:9) "Dan Dia akan menghapus segala air mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau berdukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." Oleh sebab itu "Kita, mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita meninggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan kepada kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah." (Hibr 12:1-2).imankatolik.co.id