Kamis, 11 Oktober 2018

Mengandalkan Tuhan atau Tuhan sebagai Alternatif?


Kamis Pekan Biasa XXVII (H)
Gal. 3:1-5
Luk. 1:69-75
Luk. 11:5-13



Gal. 3:1-5

3:1 Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?
3:2 Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil?
3:3 Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?
3:4 Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!
3:5 Jadi bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil?



Luk. 11:5-13

11:5 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti,
11:6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya;
11:7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara.
11:8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.
11:9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
11:10 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
11:11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?
11:12 Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking?
11:13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.
                                                                                                                                                                



Mengandalkan Tuhan atau Tuhan sebagai Alternatif?

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan firman Tuhan mengenai sikap kita kepada-Nya. Dalam hidup ini, kita hidup dengan penuh prinsip, SOP, norma, aturan yang jelas dan pasti. Tidak jarang, kita terlalu kaku di dalam memperlakukan itu semua, dan kadang malah menepikan, menafikan, dan melupakan Tuhan sebagai seluruh sumber atas hidup kita.
Dalam mencari dan mendapatkan solusi atas hidup kita, kita sering merasa  lebih mampu dengan pengetahuan kita. Kita merasa terbantu oleh teknologi, rekan kita, atau karena pihak lain yang kita pandang sebagai pahlawan dalam menyelesaikan masalah kita.
Tuhan menghendaki kita menyelesaikan masalah kita dengan mengandalkan Tuhan. Tuhan adalah segalanya, Tuhan adalah andalan kita, dan Tuhan bukan altenatif namun segalanya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan. Kita yang lemah sering gagal memahami  kebaikan dan kasih Tuhan.
Tuhan tidak terbatas sebagaimana kita terbatas. Namun kemampuan kita memahami malah sering yang kita terapkan dalam memahami Tuhan. Tuhan tidak sebagaimana yang kita bayangkan dan nilai sebagaimana kita bayangkan selama ini.
Tuhan menghendaki kita untuk mengetuk pintu belas kasih-Nya, bukan karena Tuhan tidak mau tahu kebutuhan kita, namun bahwa kita juga mau datang, menyerahkan segala kesulitan kita kepada-Nya. Kita datang kepada-Nya untuk berserah atas segala kelemahan, segala keterbatasan, dan segala keperluan kita di dalam Tuhan. Apapun yang kita inginkan, apapun yang kita perlukan itu hanya di dalam Tuhan.
Beranikah kita mengandalkan Tuhan, atau Tuhan hanya menjadi salah satu alternatif bagi kita? Ketika yang kita andalkan tidak mampu baru  kita datang kepada-Nya? BD.eLeSHa.

Rabu, 10 Oktober 2018

Doa dan Maknanya


Rabu Pekan Biasa XXVII (H)
Gal. 2:1-2,7-14
Mzm. 117:1,2
Luk. 11:1-4




Gal. 2:1-2,7-14

2:1 Kemudian setelah lewat empat belas tahun, aku pergi pula ke Yerusalem dengan Barnabas dan Titus pun kubawa juga.
2:2 Aku pergi berdasarkan suatu penyataan. Dan kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi -- dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang --, supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha.
2:7 Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat
2:8 -- karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat.
2:9 Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;
2:10 hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.
2:11 Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.
2:12 Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat.
2:13 Dan orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka.
2:14 Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?"

Luk. 11:1-4

11:1 Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya."
11:2 Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.
11:3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya
11:4 dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."



Doa dan Maknanya

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan perihidup dan doa. Kita diajak untuk memaknai doa dan bagaiaman sebaiknya berdoa. Belajar dari doa Bapa Kami, di mana kita diberi oleh doa yang dijalani dan dilakukan oleh Yesus sendiri. Doa yang menjadi sarana untuk menyatukan diri kepada Tuhan Allah sebagai sumber segala sesuatu.
Kita berdoa oleh Yesus diajarkan untuk menjalin relasi dengan Tuhan. Relasi cinta yang bisa membawa Kerajaan Tuhan itu meraja di dunia ini sebagaimana di surga. Apa yang diperlukan adalah konsistensi, relasi yang akrab dan dekat dengan Tuhan. Hal yang perlu dibangun, bukan semata-mata sudah jadi dan akan terus demikian. Tidak sekali jadi dan terus  akan terjadi. Perlu sikap terus menerus.
Doa itu bukan semata-mata deretan permohonan dan keluh kesah semata. Boleh memohon dan meminta, namun bukan itu yang dominan. Dalam bacaan lain, pun Yesus mengatakan mintalah maka akan diberikan kepadamu. Anjuran dan perintah untuk meminta itu ada, jika kita meminta itu boleh dan harus. Itulah keberanian dan keyakinan kita untuk berserah kepada-Nya di dalam meminta.
Meminta yang secukupnya, agar apa? Kita bisa bersyukur atas kasih karunia-Nya. Pun kita juga selalu hadir dan datang kepada-Nya untuk kembali meminta dan memohon. Apa yang kita mintakan pun tidak untuk hanya kepentingan atau gaya hidup namun untuk kehidupan kita yang lebih baik.
Saudara terkasih, kita pun diajak untuk mau mengampuni, karena apa? Karena kita juga perlu pengampunan. Kita diajak untuk tidak egois dan hanya mau pengampunan namun tidak mau mengampuni sesama kita. Kita diajak bukan untuk balas dendam. Kita tidak diajari untuk menjadi pribadi yang egois dan menang sendiri.
Kita memohon kekuatan Tuhan, memohon kekuatan dari Allah untuk hidup kita. Godaan itu akan selalu ada, setan tidak pernah melepaskan kita, setan akan selalu ada, dan kita tidak akan mungkin dibiarkannya untuk bebas. Di sinilah peran doa kita yang mendasar. Memohon bantuan Tuhan agar kita terbebas dari pencobaan. Memohon agar kita lepas dari kuasa jahat. Ini hanya Tuhan yang mampu, jika tidak hati-hati kita malah memasuki pencobaan karena kelemahan kita.
Berdoa kepada Tuhan untuk memperoleh bantuan-Nya dengan tidak jemu-jemu. Hadir dan datang kepada Tuhan dengan segala keterbatasan dan kelemahan. BD.eLeSHa.



Selasa, 09 Oktober 2018

Skala Prioritas di Dalam Tuhan


Selasa Pekan Biasa XXVII (H)
Gal. 1:13-24
Mzm. 139:1-3,13-15
Luk. 10:38-42



Gal. 1:13-24

1:13 Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya.
1:14 Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.
1:15 Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya,
1:16 berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia;
1:17 juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik.
1:18 Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya.
1:19 Tetapi aku tidak melihat seorang pun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus.
1:20 Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta.
1:21 Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia.
1:22 Tetapi rupaku tetap tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea.
1:23 Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya.
1:24 Dan mereka memuliakan Allah karena aku.


Luk. 10:38-42

10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.
10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,
10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."
10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,
10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."




Skala Prioritas di Dalam Tuhan

Saudara terkasih, hari ini  kita diajak untuk merenungkan sabda Tuhan yang berbicara mengenai skala prioritas di dalam melayani Tuhan. Kisah mengenai Marta dan Maria, di man Marta memilih melayani Tuhan dalam artian fisik, menyediakan makanan, menyiapkan apa-apa bagi pelayanan Tuhan.
Sisi lain Maria memilih duduk dan mendengarkan Tuhan yang mengajar. Apa yang dipilih Maria adalah duduk dan mendengarkan pengajaran Tuhan. Pilihan yang tentu tidak mudah, di mana kala itu, perempuan adalah mirip pilihan Marta, di belakang, dan bukan belajar.
Apa yang ditampilkan dalam kisah Injil hari ini  memberikan kepada kita pelajaran berharga:
Pelayanan kepada Tuhan dan sesama itu berpusat dalam Tuhan. Relasi dan bersama dengan Tuhan itu penting dan nomor satu, simbolisasi yang diambil dalam konteks ini adalah Maria, yang duduk dan mendengarkan Tuhan dengan seluruh pengajaran-Nya.
Pelayanan kepada sesama itu penting, namun juga jangan lupa dan ada yang lebih penting, relasi dan kesatuan dengan Tuhan. Ingat panggilan Tuhan selalu berseru, “Ikutlah Aku....” Ikut Tuhan dulu baru melakukan karya lain.
Melayani sesama itu penting dan harus, namun jangan abaikan relasi bersama Tuhan. Mengapa demikian? Kita menimba dari  sumber yang hakiki, kita mendapatkan kekuatan dari-Nya langsung, dan dengan itu, kita tidak malah menjadi lupa diri dan melayani diri sendiri. Ini yang berbahaya dan bisa menjadi kering dalam pelayanan kita.
Tuhan yang utama, Tuhan yang nomor satu, dan Tuhan harus didahulukan, mengapa demikian? Karena Tuhan adalah sumber atas segala rahmat dan karunia yang boleh kita miliki. Ini bukan kewajiban namun konsekuensi logis atas karunia dan kasih Tuhan yang kita dapatkan.
Menjalin relasi dengan Tuhan, menjadikan kita  mampu dan ingat apa yang akan  kita jalankan hanya di dalam Tuhan. Melupakan Tuhan dan kesibukan bisa menjadi masalah jika tidak kita sadari dengan baik dan sepenuhnya. Maunya ke mana malah ke mana. Berbagai masalah bisa timbul karenanya. Membangun relasi bersama Tuhan sebagai sumber dari segala sumber itu penting dan utama.  Dan tidak boleh diabaikan. BD.eLeSha



Senin, 08 Oktober 2018

Belas Kasih itu Perilaku, Bukan Semata Wacana


Senin Biasa Pekan XXVII (H)
Gal. 1:6-12
Mzm. 111:1-2,7-9,10c
Luk. 10:25-37




Gal. 1:6-12

1:6 Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,
1:7 yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.
1:8 Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.
1:9 Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.
1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.
1:11 Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia.
1:12 Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.

Luk. 10:25-37

10:25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
10:26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"
10:27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
10:28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."
10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"
10:30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
10:32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
10:33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
10:34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
10:35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
10:36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"
10:37 Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"



Belas Kasih itu Perilaku, Bukan Semata Wacana

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan belas kasihan. Bagaimana belas kasih itu bukan konsep, wacana, ide, atau kata-kata. Belas kasih itu wujud nyata, perilaku, kehadiran untuk mengulurkan tangan.  Sering orang itu muluk-muluk dalam ide, bagus di dalam mewacanakan dan merencanakan, namun nol dalam tindakan dan perilaku.
Belaskasihan itu hadir. Hadir, datang, dan melakukan. Tidak berjarak dan memberikan diri di dalam sebatas kapasitas dan kemampuan. Dalam kisah Injil hari ini, jelas saudara itu memberikan uluran tangan,  kehadiran untuk membantu, menolong, dan memberikan bantuan.itu semua membutuhkan kehadiran, bukan menengok saja, atau malah memutar dan pura-pura tidak tahu.
Belas kasihan itu bukan semata pengetahuan atau sifat, namun wujud dalam aksi. Imam itu jelas tahu hukum, peraturan, atau definisi, namun ia tidak bisa membedakan mana yang penting dan mendesak, atau urgen yang mana. Ia cenderung prosedural dan membedakan malah.
Belas kasihan itu membuat jembatan, menyatukan, bukan malah memisahkan. Paus Fransiskus sangat bagus, ketika ada wacana membuat tembok pemisah antarnegara di sebuah negara, menolak pengungsi dengan dugaan dan potensi kriminalitas dan agama, Paus menyerukan bukan tembok pemisah, terima pengungsi, dan rangkul mereka yang berbeda.
Belas kasihan itu meruntuhkan egoisme dan cinta diri. Memberikan diri itu berat dan perlu keberanian. Melihat pihak lain sebagai saudara bukan takut, cemas, khawatir, dan dinilai sebagai pesaing.
Belas kasih itu berani berkorban dan memberikan diri apapun yang bisa dilakukan dengan segala risiko. Memberikan prioritas pada pihak lain, bukan diri sendiri dan kelompok.
Sanggupkah kah kita bersikap demikian? Di dalam Tuhan, bukan tidak ada yang tidak mungkin bukan? BD.eLeSHa.

Perkawinan Katolik


HARI MINGGU PEKAN BIASA XXVII (H)
Kej. 2:18-24
Mzm. 128:1-2,3,4-5,6
Ibr. 2: 9-11
Mrk. 10:2-16



Kej. 2:18-24

2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."
2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.
2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.
2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.
2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.
2:23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."
2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.


Ibr. 2: 9-11

2:9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.
2:10 Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah -- yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan --, yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.
2:11 Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,


Mrk. 10:2-16

10:2 Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"
10:3 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?"
10:4 Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai."
10:5 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu.
10:6 Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan,
10:7 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,
10:8 sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.
10:9 Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
10:10 Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu.
10:11 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.
10:12 Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."
10:13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.
10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."
10:16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.



Perkawinan Katolik

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan sabda Tuhan yang berkaitan dengan perkawinan Katolik. Pernikahan Gerejani bersikap mongam  tak terceraikan. Ada dua makna besar di dalam hal ini.
Pertama, pernikahan Gerejani berarti satu laki-laki dengan satu perempuan. Tidak mengenal yang namanya poligami dan poliandri. Di mana satu laki-laki dengan banyak perempuan atau sebaliknya, banyak laki-laki untuk satu perempuan. Pun tidak juga mengenal pernikahan sejenis, baik antarlaki-laki atau antarperempuan. Di antara pernikahan jenis ini tidak bisa difasilitasi Gereja karena memang melanggar prinsip pernikahan.
Sifat tak terceraikan karena pernikahan Gerejani adalah sakramen, di mana penyatuan laki-laki dan perempuan itu adalah sebagai tanda dan sarana kehadiran Allah. Allah hadir dan menyatukan dua mempelai, mereka bukan lagi dua melainkan satu. Di sanalah yang menjadikan perkawinan itu tidak bisa dipisahkan, kecuali oleh maut. Tidak mengenal perceriaan bagi pernikahan Gerejani.
Konsensus perkawinan  harus dibangun dalam keadaan sadar, bebas, dan tidak ada paksaan atau ketakutan. Cinta kasih suami-istri bukan karena kasihan, ketakutan, ataupun karena keterpaksaan. Bebas. Komitmen yang dibangu dalam kondisi tertekan dan tidak bebas bisa menjadi penghalang pernikahan.
Perkawianan juga menuntut komitmen itu secara sungguh dan penuh. Dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit. Orang sering memilah dan memilih, tidak mau mendampingi pasangan yang sedang menderita, sedang terpuruk, PHK, atau sejenisnya. Mereka merasa tidak mampu lagi dan menyingkir, ketika mulai jaya, sehat, dan mampu kembali dijadikan pasangan. Gereja tidak menolerir model pernikahan demikian.
Saudara terkasih, kadang Gereja dinilai kolot, kaku, dan tidak menghargai umat yang bertekun di dalam Gereja. padahal justru dengan cara yang khas ini, Gereja memperlihatkan wajah Tuhan  yang sesungguhnya. Tuhan yang tidak terbatas dalam mengungkapkan cinta-Nya. Tuhan selalu hadir dalam segala suasana. Itulah Tuhan yang hadir di dalam keluarga.
Keluarga itu Gereja Domestik, Gereja Mini, dalam keluargalah Tuhan menampakan wajah-Nya, orang bisa melihat wajah Tuhan dalam keluarga-keluarga Kristiani yang menampilkan kasih dalam segala suasana. BD.eLeSHa.

Sabtu, 06 Oktober 2018

Engkau Nyatakan kepada Orang Kecil


Sabtu Pekan Biasa XXVI (H)
Ayb. 42:1-3,5-6,12-16
Mzm. 119:66,71,75,91,125, 130
Luk. 10:17-24




Ayb. 42:1-3,5-6,12-16

42:1 Maka jawab Ayub kepada TUHAN:
42:2 "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.
42:3 Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.
42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
42:6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."
42:12 TUHAN memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina.
42:13 Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan;
42:14 dan anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima, yang kedua Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh.
42:15 Di seluruh negeri tidak terdapat perempuan yang secantik anak-anak Ayub, dan mereka diberi ayahnya milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya laki-laki.
42:16 Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat.


Luk. 10:17-24

10:17 Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu."
10:18 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.
10:19 Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.
10:20 Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga."
10:21 Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.
10:22 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu."
10:23 Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.
10:24 Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya."




Engkau Nyatakan kepada Orang Kecil


Saudara terkasih, hari ini kita diajak merenungkan mengenai kepada siapa rahasia Kerajaan Allah itu dinyatakan. Berangkat dari pengalaman para murid yang mampu mengusir setan, ingat konteks kala itu, pengusiran setan adalah ciri karya Mesiasnisme. Mereka ini kagum karena mereka ternyata mampu. Mereka bangga, berbahagia, dan menyatakan sukacita karena ini. Siapa yang menyangka karena mereka bukan kalangan  ahli imam, bangsawan, atau paling tidak murid dari guru-guru yang berada di perguruan yang mentereng. Mereka hanya ikut Guru yang masih banyak dijadikan olok-olok, mmengembara dari desa ke desa.
Di balik itu semua, ternyata tugas Mesias mereka emban dan menunjukkan ciri itu. Tuhan ternyata menanggapi itu dengan bijaksana, namun Yesus memurnikan perasaan, kebahagiaan mereka ke arah yang lebih mendalam dan bermakna. Mereka diajak untuk melihat bahwa mereka itu telah mendapatkan keselamatan, karena panggilan Yesus yang telah mereka tanggapi dengan semestinya.
Pernyataan Allah mengenai Putera-Nya mereka yang bisa menerima, memahami, dan kemudiaan memberikan kesaksian. Tuhan bersabda, bahwa pengetahuan ini diberikan kepada para murid yang dari kalangan biasa. Mereka dibandingkan dengan betapa banyak ahli agama, cerdik cendikia, raja-raja ingin melihat Anak Manusia namun tidak bisa karena keterbatasan mereka. Mereka merasa lebih dan menganggap mereka sudah berusaha dengan patut, namun malah mereka luput ketika Sang Anak Manusia ada di tengah-tengah mereka. Konsep, pengetahuan, dan  definisi yang bisa melenakan. Pun para nabi, bisa saja salah menafsirkan, keterbatasan kesempatan mereka di dalam hidup. Membuat mereka tidak sempat melihat Putera Allah.
Saudara terkasih, jangan sampai keterbatasan manusiawi kita malah menjadi karang penghalang untuk merasakan hadirat Tuhan. Kekurangan yang menjadi penghambat karena merasa lebih dan merasa tahu dengan otak kita. Merasa lebih dari pada yang lain adalah penyakit yang membuat Tuhan lalu dari hadapan kita. BD.eLeSHa.