Senin, 05 Maret 2018

Tidak Ada Nabi yang Dihormati di Negerinya Sendiri


Senin Biasa Pekan III Prakaskah (U)
2 Raj. 5.1-15a
Mzm. 42:2,3,43:3,4
Luk. 4:24-30



2 Raj. 5.1-15a

5:1 Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia TUHAN telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta.
5:2 Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman.
5:3 Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: "Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya."
5:4 Lalu pergilah Naaman memberitahukan kepada tuannya, katanya: "Begini-beginilah dikatakan oleh gadis yang dari negeri Israel itu."
5:5 Maka jawab raja Aram: "Baik, pergilah dan aku akan mengirim surat kepada raja Israel." Lalu pergilah Naaman dan membawa sebagai persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian.
5:6 Ia menyampaikan surat itu kepada raja Israel, yang berbunyi: "Sesampainya surat ini kepadamu, maklumlah kiranya, bahwa aku menyuruh kepadamu Naaman, pegawaiku, supaya engkau menyembuhkan dia dari penyakit kustanya."
5:7 Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: "Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku."
5:8 Segera sesudah didengar Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya: "Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel."
5:9 Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa.
5:10 Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: "Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir."
5:11 Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: "Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku!
5:12 Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?" Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati.
5:13 Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: "Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir."
5:14 Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.
5:15 Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel.

Luk. 4:24-30

4:24 Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
4:25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
4:26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.
4:27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."
4:28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.
4:29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
4:30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.



Tidak Ada Nabi yang Dihormati di Negerinya Sendiri

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan awal, permulaan, dan ketika Yesus  memulai karya-Nya. IA yang tahu persis bahwa perutusan-Nya sangat tidak mudah. Mewartakan kebebasan kepada yang lemah dan miskin. Adanya pengharapan bagi yang tertindas. Namun penolakan justru yang diterima, oleh bangsanya sendiri.
IA mengutip pengalaman Elia dan Elisa. Mereka bukan memberikan mukjizat pada bangsa Israel, malah orang luar yang menerima berkat mereka berdua. Penolakan menjadi ciri nabi, dan Ia pun tidak lepas dari keadaan itu.
Dalam konteks kekinian, sering kita merasa iri, merasa tidak terima karena ada di sekitar kita yang mendapatkan berkat. Misalnya mendapat beasiswa atau gelar dengan gemilang. Apa yang akan terjadi? Isu, meniupkan berita bohong, kesuksesannya karena curang dan sebagainya. Motivasinya adalah pengin yang berkembang menjadi iri. Tidak heran ada pepatah yang mengatakan iri tanda tak mampu. Ternyata kita pu mengidap hal yang sama, ribuan tahun pengalaman yang identik masih terjadi.
Keterbukaan budi dan hati kepada kehendak Allah sering kita abaikan. Kemenangan kemanusiaan dengan iri dan dengki membuat penyelamatan Allah di depan mata terlepas. Kasih-Nya yang begitu besar tersia-siakan karena keinginan kita.
Kita enggan menghormati tetangga kita yang sukses karena iri. Nabi yang mewartakan pun ditolak karena enggan berubah. Orang nyaman dengan keberadaan dirinya, puas dengan pemikirannya sendiri. Merasa lebih nyaman dengan kemanusiaan lama yang enak dan telah dijalani. Mengapa mesti berubah? Yesus mengajak kita untuk tidak enggan untuk berubah dan berbalik arah menuju kepada Bapa. BD.eLeSHa.

Minggu, 04 Maret 2018

Kemarahan demi Allah atau Kemarahan karena Salah?


MINGGU PRAPASKAH III (U)
Kel. 20:1-17
Mzm. 19:8,9,10,11
1 Kor. 1:22-25
Yoh. 2:13-25




Kel. 20:1-17

20:1 Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:
20:2 "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
20:6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.
20:7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
20:8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:
20:9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,
20:10 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.
20:11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.
20:12 Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
20:13 Jangan membunuh.
20:14 Jangan berzinah.
20:15 Jangan mencuri.
20:16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
20:17 Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu."

1 Kor. 1:22-25

1:22 Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,
1:23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,
1:24 tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.
1:25 Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.

Yoh. 2:13-25

2:13 Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem.
2:14 Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.
2:15 Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.
2:16 Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan."
2:17 Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku."
2:18 Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?"
2:19 Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali."
2:20 Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?"
2:21 Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.
2:22 Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.
2:23 Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya.
2:24 Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua,
2:25 dan karena tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.




Kemarahan demi Allah atau Kemarahan karena Salah?

Saudara terkasih, menarik apa yang kita renungkan dalam Minggu  Prapaskah III ini, Yesus marah karena Bait Allah menjadi pasar.  Ada dua hal yang menarik untuk kita renungkan, pertama mengenai kemarahan, mosok Yesus ngamuk, apa pantes? Kedua mengenai Bait Allah mejadi pasar.
Kemarahan Yesus, Yesus marah karena Bait Allah dijadikan pasar. Berkaitan dengan poin kedua nanti, namun kemarahan ini. bagaimana kemarahan yang memang mendasar dan beralasan. Bagaimana tidak, Bait Allah malah menjadi tempat jual beli, apakah bisa berkonsentrasi para peziarah yang jauh-jauh ke Yerusalem, sedangkan hewan ternak apa bisa juga silentium? Itu, diam karena sedang berdoa, pun mana ada jual beli yang senyap dan tanpa ada tawar menawar. Beda dengan kemarahan kita yang cenderung  membela perilaku salah kita. Membela diri, menyembunyi kesalahan, dan sejenisnya. Artinya jelas sangat berbeda dalam alasan dan juga nanti perilakunya, masih terukur kalau Yesus.
Kedua, mengenai pasar, namanya jual beli tentu mencari keuntungan. Di sinilah konflik kepentingan terjadi, selain tentu menjadikan tempat itu kumuh dan kotor. Secara fisik kotor dan tidak patut. Secara relasional dengan orang lain, mengambil keuntungan dengan sangat tidak pantas. Melihat rekam jejak perilaku mereka, meskipun tidak dikatakan, namun bisa diambil simpulan demikian. keuntungan itu sah sebagai sebuah usaha, namun tentu juga perlu melihat siapa konsumennya, untuk apa itu semua juga. Ibadah harus berkaitan dengan jual beli lagi, tentu hal yang tidak semstinya.
Kemarahan demi dan karena kasih-Nya pada Allah. Memuliakan Allah dengan membela hak orang lain. Pun hak Allah dengan Bait Allah yang harus bersih tentunya. Keberanian melawan kebiasaan dan banyaknya orang tentu sangat bertolak belakang dengan kebiasaan. Ini yang membedakan Yesus dan yang lainnya. Tidak takut dengan keberadaan orang banyak yang memilki kepentingan, karena membela kebenaran dengan risiko keroyokan yang merasa dirugikan. Kita sebagai bangsa sedang menghadapi hal demikian, apakah mengikuti arus salah yang besar? Atau berani melawannya? Tentu dalam arti untuk meluruskan yang tidak benar. BD.eLeSHa.

Sabtu, 03 Maret 2018

Bapa Murah Hati yang Membuat Iri Manusia


Sabtu Pekan Biasa II Prapaskah (U)
Mi. 7:14-15,18-20
Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12
Luk. 15:1-3,11-32



Mi. 7:14-15,18-20

7:14 Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala.
7:15 Seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban!
7:18 Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?
7:19 Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.
7:20 Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!


Luk. 15:1-3,11-32

15:1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."
15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
15:11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat.
15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.
15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya.
15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.
15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.
15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
15:25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.
15:26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.
15:27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.
15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.
15:30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.
15:31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.
15:32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."



Bapa Murah Hati yang Membuat Iri Manusia

Saudara terkasih, bacaan Injil hari ini adalah gambaran Bapa Pencipta yang demikian murah hati dan anak manusia yang bisanya iri. Hal yang sangat lumrah dan manusiawi. Namun manusiawi bukan kemudian menjadi pembenar untuk perilaku manusia, di mana iri, dengki, dan sejenisnya menjadi gaya hidup. beberapa hari ini kita diajak untuk merenungkan baik saja, apalagi buruk. Ketika orang Farisi menggugat karena pendosa mendengarkan Yesus, Yesus menyajikan kisah Bapa Yang Baik Hati ini.
Kisah sangat terkenal anak bungsu dan sulung, gambaran manusia, di mana satu adalah tamak dan nakal, sisi satu adalah anak alim berpamrih. Typologi kita banget pokoknya. Sikap manusiawi akan ngamuk, malah tidak jarang bacok yang maju. Ternyata Tuhan tidak demikian, menerima, sama sekali tidak ada kemarahan atau mengungkit yang lalu. Sikap penerimaan total yang tidak ada duanya. Mungkin seperti orang tua yang terbahak melihat anaknya belepotan saus, namun kemarahan dan kejengkelan yang biasanya terlihat. Penerimaan dan pengampunan yang membuat kita nyaman untuk kembali. Lihat bagaimana si bungsu berani berbalik arah dan pulang? Penerimaan Bapa yang akan menerimanya dengan sukacita.
Kita akan diwakili si sulung yang mengedepankan kejengkelan, membawa-bawa terus kisah masa lalu, dan iri. Kebaikan Bapa yang baik itu menjadi sumber kejengkelan karena cinta kita, taat kita, dan bakti kita terbatas. Kemampuan menerima tanpa mengingat yang lalu memang rendah dalam diri manusia.  Apa yang terjadi pada si sulung adalah gambaran pula bahwa kebaikan pun bisa menjadi sumber perselisihan dan kejahatan.  Jelas Bapa yang baik itu adalah baik adanya, menerima anaknya kembali, namun sikap iri dan dengki kita manusia sering membuat orang makin parah melakukan kesalahan. Menghakimi, menghukum, dan mengingat kesalahan terus menerus, yang perlu untuk dikikis dan dihilangkan, dan itulah yang menjadi kehendak Tuhan. BD.eLeSHa.



Kamis, 01 Maret 2018

Keserakahan Penyakit Bangsa

Jumat Biasa Pekan II Prapaskah (U)
Kej. 37:3-4, 12-13,17-28
Mzm. 105:16-17,18-19,20-21
Mat. 21:33-43,45-46



Kej. 37:3-4, 12-13,17-28

37:3 Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia.
37:4 Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.
37:12 Pada suatu kali pergilah saudara-saudaranya menggembalakan kambing domba ayahnya dekat Sikhem.
37:13 Lalu Israel berkata kepada Yusuf: "Bukankah saudara-saudaramu menggembalakan kambing domba dekat Sikhem?
37:17 Lalu kata orang itu: "Mereka telah berangkat dari sini, sebab telah kudengar mereka berkata: Marilah kita pergi ke Dotan." Maka Yusuf menyusul saudara-saudaranya itu dan didapatinyalah mereka di Dotan.
37:18 Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya.
37:19 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Lihat, tukang mimpi kita itu datang!
37:20 Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!"
37:21 Ketika Ruben mendengar hal ini, ia ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka, sebab itu katanya: "Janganlah kita bunuh dia!"
37:22 Lagi kata Ruben kepada mereka: "Janganlah tumpahkan darah, lemparkanlah dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini, tetapi janganlah apa-apakan dia" -- maksudnya hendak melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya.
37:23 Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, mereka pun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu.
37:24 Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair.
37:25 Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam dan damar ladan, dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir.
37:26 Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: "Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya?
37:27 Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita." Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu.
37:28 Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir



Mat. 21:33-43,45-46

21:33 "Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.
21:34 Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya.
21:35 Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu.
21:36 Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka.
21:37 Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.
21:38 Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.
21:39 Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya.
21:40 Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?"
21:41 Kata mereka kepada-Nya: "Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya."
21:42 Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.
21:43 Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.
21:45 Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya.
21:46 Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi.




Keserakahan Penyakit Bangsa

Saudara terkasih, hari ini kita diajak Bunda Gereja untuk melihat bagaimana ketamakan, iri hati, dan sikap mau mencari keuntungan sendiri menjadi gaya hidup yang ternyata sejak zaman nabi-nabi. Bacaan Pertama mengisahkan saudara Yusuf yang iri kemudian menjual Yusuf ke Mesir. Puncak kemarahan, kejengkelan, dan iri hati. Pembunuhan sebenarnya, namun ada Ruben yang membela dna menyelamatkan Yusuf dari kematian.
Kisah dalam Injil menjelaskan dengan gamblang bahkan oleh Yesus digunakan untuk mengajarkan mengenai Kerajaan Surga dan siapa yang berhak memasukinya. Para pekerja dan penggarap yang selalu dianiaya, dibunuh, dan menghendaki kebunnya, adalah gambaran orang Yahudi yang selalu menganiaya nabi-nabi. Akhirnya anaknya sendiri dikirim agar disegani, pun sama saja. Mereka bunuhi yang membuat mereka terbuka atas perilaku jahat dan tamak mereka.
Saudara terkasih, sebenarnya apa yang dilakukan anak-anak Israel yang iri pada Yusuf dan akhirnya bermuara pada pembunuhan yang gagal dan menjual adalah gambaran kita. Pun apa yang dilakukan orang Yahudi yang memukuli para penggaran lahan Tuhan adalah gambaran kita. Kita tidak mau berubah dari hidup, perilaku, dan sikap  lama kita. Kemanusiaan lama yang enak, nyaman, dan seenaknya sendiri, enggan diubah. Perilaku lama yang sudah mendarah daging dipertahankan dengan segala cara. Apa yang dilakukan para nabi dulu ditolak. Kini pun kita juga susah bukan kalau dinasihati, untuk berubah, bebenah, dan lebih menyukai manusia lama yang begitu-begitu saja. Perlu perubahan, gerak balik arah menuju Tuhan agar makin berkenan kepada Tuhan. Namun enak berlaku tidak adil, mudah merugikan pihak lain daripada kerja keras dan berusaha.

Apa yang menjadi permenungan kita hari ini sangat jelas berkaitan erat dengan hidup berbangsa dan bernegara, di mana korupsi makin merajalela, merugikan pihak lain sebagai hal yang wajar, padahal beragama dan tahu Tuhan juga. BD.eLeSHa.

Peringatan akan Harta

Kamis Biasa Pekan II Prapaskah (U)
Yer. 17:5-10
Mzm. 1:1-2,3,4,6
Luk. 16:19-31




Yer. 17:5-10

17:5 Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
17:6 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.
17:7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
17:8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
17:9 Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?
17:10 Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."


Luk. 16:19-31

16:19 "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.
16:30 Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."



Peringatan akan Harta

Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita untuk merenungkan mengenai sikap kita akan harta. Yesus tidak antiharta, atau pemuja kemiskinan, dan membenci orang kaya. Tidak ini maksudnya. Tuhan tidak menghendaki kita memuja harta sehingga melupakan kemanusiaan. Kisah di mana ketika orang kaya abai akan orang miskin. Ketamakan menjadi masalah, ketika orang bersikap tidak adil, mencuri hak orang lain demi kepuasan dan harga diri, korupsi yang sangat merugikan hidup bersama demi bermewah-mewah. Konkret dan sangat kontekstual hingga hari ini. Lihat bagaimana Lazarus yang sangat menderita karena miskinnya, eh si kaya malah abai dan enak-enakan makan.
Sikap memuja harta dan abai akan saudaranya. Tidak dalam arti bahwa Tuhan benci orang kaya, bukan orangnya, atau kekayaannya, namun sikapnya terhadap kekayaan dan dalam memandang orang lain. Jika kekayaan itu digunakan untuk membantu orang miskin, apa salahnya? Jelas tidak ada yang salah. Kemiskinan pun Tuhan tidak menghendaki jika dengan demikian menjadi abai akan Pencipta dan sesama. Miskin karena malas dan enggan berusaha.
Permenungan kedua, soal orang mati yang bangkit. Apa yang akan dikatakan saudara orang kaya tersebut? Paling-paling akan mengatakan hanya membual, bahkan akan dikatakan gila, mau menakut-nakuti agar mendapatkan hartanya. Sikap orang apriori terlebih dahulu. Tidak ada gunanya kesaksian dari orang yang mati. Nyatanya ajaran para nabi pun mereka nafikan kog. Hingga hari ini masih juga terjadi. Namun ketika ada bukti dan fakta, dengan serta merta menolaknya, mengatakan bahwa itu bohong atau bahkan gila, apalagi orang mati. Sikap kita akan memiliki kecenderungan untuk tidak mudah diberi tahu, apalagi untuk mengubah perilaku buruk kita. BD.eLeSHa.