Senin, 05 Februari 2018

Santa Agata, Perawan dan Martir

Pw. S. Agata, PrwMrt (M)
1 Raj. 8:1-7,9-13
Mzm. 132:6-7,8-10
Mrk. 6:53-56



1 Raj. 8:1-7,9-13

8:1 Pada waktu itu raja Salomo menyuruh para tua-tua Israel dan semua kepala suku, yakni para pemimpin puak orang Israel, berkumpul di hadapannya di Yerusalem, untuk mengangkut tabut perjanjian TUHAN dari kota Daud, yaitu Sion.
8:2 Maka pada hari raya di bulan Etanim, yakni bulan ketujuh, berkumpullah di hadapan raja Salomo semua orang Israel.
8:3 Setelah semua tua-tua Israel datang, maka imam-imam mengangkat tabut itu.
8:4 Mereka mengangkut tabut TUHAN dan Kemah Pertemuan dan segala barang kudus yang ada dalam kemah itu; semuanya itu diangkut oleh imam-imam dan orang-orang Lewi.
8:5 Tetapi raja Salomo dan segenap umat Israel yang sudah berkumpul di hadapannya, berdiri bersama-sama dengan dia di depan tabut itu, dan mempersembahkan kambing domba dan lembu sapi yang tidak terhitung dan tidak terbilang banyaknya.
8:6 Kemudian imam-imam membawa tabut perjanjian TUHAN itu ke tempatnya, di ruang belakang rumah itu, di tempat maha kudus, tepat di bawah sayap kerub-kerub;
8:7 sebab kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya di atas tempat tabut itu, sehingga kerub-kerub itu menudungi tabut serta kayu-kayu pengusungnya dari atas.
8:9 Dalam tabut itu tidak ada apa-apa selain dari kedua loh batu yang diletakkan Musa ke dalamnya di gunung Horeb, yakni loh-loh batu bertuliskan perjanjian yang diadakan TUHAN dengan orang Israel pada waktu perjalanan mereka keluar dari tanah Mesir.
8:10 Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, datanglah awan memenuhi rumah TUHAN,
8:11 sehingga imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN.
8:12 Pada waktu itu berkatalah Salomo: "TUHAN telah menetapkan matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman.
8:13 Sekarang, aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya."


Mrk. 6:53-56

6:53 Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ.
6:54 Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus.
6:55 Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada.
6:56 Ke mana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.



Santa Agata, Perawan dan Martir

Agata lahir di Kantania, pulau Sisilia, pada pertengahan abad ketiga. Riwayatnya dan kisah kesengsaraannya karena iman akan Kristus tidak diketahui secara pasti. Semuanya baru muncul bertahun-tahun sepeninggal perawan suci ini.
Tradisi lama menurunkan satu-dua riwayat seperti berikut: Agata adalah puteri seorang bangsawan kaya yang berkuasa di Palermo atau Kantania, Sisilia. Penderitaannya sebagai seorang Martir berawal pada masa pemerintahan kaisar Decius (249 - 251). Penderitaan itu berawal dari peristiwa penolakannya terhadap lamaran Quintianus, seorang pegawai tinggi kerjaan Romawi. Ia menolak lamaran itu karena ia telah berjanji untuk tetap hidup suci di hadapan Tuhan.
Akibatnya ia di tangkap dan dipenjarakan dengan maksud untuk mencemari kesuciannya. Semua usaha picik itu sia-sia belaka. Dengan bantuan rahmat Tuhan, Agata tetap menunjukkan dirinya sebagai mempelai Kristus yang teguh dan suci murni.
Quintianus semakin berang dan terus menyiksa Agata hingga mati. Agata menghadapi ajalnya dengan perkasa dan menerima mahkota keperawanan dan kemartirannya pada tahun 250. 
Karena dipercaya bahwa Agata mempunyai kekuatan untuk mencegah dan mengendalikan letusan-letusan gunung api Etna di Sisilia, ia dimuliakan dan dihormati sebagai pelindung manusia dari ancaman-ancaman api. https://www.imankatolik.or.id
Saudara terkasih, selain mendapatkan peneguhan atas keteladanan S. Agata, kita pun mendapatkan peneguhan iman dari para pengikut Yesus yang karena imannya, kepercayaan, dan sikapnya yang yakin Yesus sebagai Penyembuh memberikan kesembuhan untuk mereka. Mereka disembuhkan bahkan hanya dengan menyentuh jumbai jubahnya. Hal yang luar biasa. Bagaimana kita dalam keseharian kita, jika mendapatkan kesulitan atau sakit, siapa yang utama kita datangi dan mintai tolong? Tuhan dulu atau yang lain dulu. Jangan khawatir merepotkan Tuhan, hadirlah dulu kepada Tuhan dan sembari obat, dokter, dan sarana lain sebagai kepanjangan tangan Tuhan. BD.eLeSHa.


Penafsiran dan Merasa Diri Paling

Pw. S. Paulus Miki, Imdkk, Mrt Jepang (M)
 1 Raj. 8:22-23-27-30
Mzm. 84:3,4,5,10,11
Mrk. 7:1-13



1 Raj. 8:22-23-27-30

8:22 Kemudian berdirilah Salomo di depan mezbah TUHAN di hadapan segenap jemaah Israel, ditadahkannyalah tangannya ke langit,
8:23 lalu berkata: "Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu;
8:27 Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini.
8:28 Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya TUHAN Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu pada hari ini!
8:29 Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan: nama-Ku akan tinggal di sana; dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini.
8:30 Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini; bahwa Engkau juga yang mendengarnya di tempat kediaman-Mu di sorga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni.



Mrk. 7:1-13

7:1 Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus.
7:2 Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.
7:3 Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka;
7:4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.
7:5 Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?"
7:6 Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
7:7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.
7:8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."
7:9 Yesus berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.
7:10 Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.
7:11 Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban -- yaitu persembahan kepada Allah --,
7:12 maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya.
7:13 Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan."



Penafsiran dan Merasa Diri Paling

Saudara terkasih, hari ini kita kembali diajak Bunda Gereja untuk merenungkan sikap kaum Farisi dan perilakunya, mirip dan identik dengan apa yang kita bersama sebagai bangsa sedang hadapi. Begitu banyak orang berbicara taat hukum, antikorupsi, pemerintahan bersih, namun toh nyatanya jauh dari itu semua.
Yesus yang mendapatkan kritikan tajam, bahkan cenderung teguran kasar dan keras, melihat perilaku para murid yang tidak menuruti hukum adat sebagaimana Farisi pahami. Sebenarnya, cuci tangan bukan tuntutan Taurat sebagai representasi kehendak Allah. itu hanya bentuk kesalehan semata yang dipandang baik oleh kaum Farisi, namun diwajibkan sebagaimana tuntunan Taurat. Kembali Yesus tidak mau berpolemik mengenai tradisi dan adat istiadat, namun inti dari itu semua, sumber tertib hukum dalam Taurat. Farisi merasa lebih saleh dengan membuat aturan tambahan, dan bisa menyematkan kedosaan pada pihak yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka.
Saudara terkasih, hal ini ternyata dalam hidup kita sehari-hari demikian mudah juga terjadi. memvonis saudara kita yang tidak hadir dalam kegiatan lingkungan. Tanpa tahu kesulitan dan apa yang terjadi, dihakimi sebagai tidak beriman. Bahkan ada yang berbalik agama karena perilaku demikian. ada kerabat yang meninggal, oleh lingkungan tidak ditanggapi dengan baik karena mereka tidak mau terlibat. Hari itu juga mereka meninggalkan Gereja. pun dalam hal-hal keseharian, tuntutan masyarakat kadang berlebihan, apalagi jika berbicara agama. Media sosial menjadi tempat yang seolah rimba raya sok tahu menyedihkannya, sering merasa tahu agama lain.
Berbahaya menafsirkan sendiri kemudian memaksakannya pada pihak lain. Hal ini  seolah menjadi gaya hidup baru bagi masyarakat kita. Apalagi jika menafsirkan agama lain dengan pola pikir sendiri, parah lagi, agamanya sendiri saja tidak paham, namun merasa tahu agama lain.
Penyakit lain yang sedang mengejala adalah perasaan diri paling, paling apapun, dan repotnya itu kalau merasa paling benar dan saleh. Dan itu terjadi di dalam hidup berbangsa dan bernegara. Berbeda sebagai salah dan musuh. Kontekstual sekali bacaan hari ini bagi kita. Sikap yang patut diambil adalah memberikan pengampunan, mereka tidak tahu apa yang mereka buat, berselisih, menjawab, apalagi mendebat hanya membuang-buang energi.

Peringatan Martir Jepang jadi ingat film dan novel dengan judul yang sama SILENCE, betapa berat menjadi martir di Jepang apalagi dengan kekejaman yang luar biasa. Penenggelaman hidup-hidup, di bakar setiap kali menolak mengkhianati Yesus, hingga digantung terbalik dengan dibebat tali dan dilukai kecil di belakang telinga, dan dimasukkan lobang untuk membunuh dengan pelan-pelan. Luar biasa karya mereka di sana, dan itu sungguh terjadi. Bukan hanya medan yang buruk, namun penolakan yang luar biasa keras pun dihadapi. Kebesaran iman untuk bertahan akan cinta Kristus yang patut menjadi contoh dan teladan.BD.eLeSHa.


Minggu, 04 Februari 2018

Kelekatan Bisa Menghambat

MINGGU PEKAN BIASA V(H)
Ayb. 7:1-4,6-7
Mzm. 147:1-2,3-4,5-6
1 Kor. 9:16-19,22-23
Mrk. 1:29-39



Ayb. 7:1-4,6-7

7:1 "Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?
7:2 Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya,
7:3 demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan.
7:4 Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari.
7:6 Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan.
7:7 Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas; mataku tidak akan lagi melihat yang baik.


1 Kor. 9:16-19,22-23

9:16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.
9:17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.
9:18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.
9:19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
9:22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
9:23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.


Mrk. 1:29-39

1:29 Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas.
1:30 Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus.
1:31 Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka.
1:32 Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan.
1:33 Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu.
1:34 Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.
1:35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.
1:36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia;
1:37 waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau."
1:38 Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang."
1:39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.



Kelekatan Bisa Menghambat


Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan mengenai tugas perutusan kita dengan meneladan apa yang dilakukan oleh Yesus, Ayub, dan Paulus. Ayub bagaimana ia merasakan hari-harinya dengan penuh perjuangan. Paulus menyatakan bahwa karyanya itu karena kehendak Allah ia tidak layak memperoleh upah. Ia bisa melihat dan menyatakan bahwa ia cukup bangga bisa menjadi pewarta khabar gembira, bukan mengenai upah yang ia cari.
Yesus memperlihatkan bagaimana IA “melepaskan” Diri dari “pengenalan” setan dan para pencari-Nya. Ia merasa bahwa karya-Nya, apa yang menjadi perutusan-Nya bisa terhambat jika setan tidak diam. Mereka bisa nyinyir bahasa kekinian dengan banyak ungkapan yang akan dikatakan oleh setan. Apa yang hendak IA sampaikan bisa dimentahkan karena mulut ember si kuasa jahat. Pengenalan akan Yesus masih belum cukup untuk bisa mengerti jati diri Yesus yang sesungguhnya. Masih perlu waktu dan pengajaran. Hal ini yang hendak dimanfaatkan oleh setan. Kedua, ketika para pengikut mencari-Nya, bisa ada potensi untuk menghambat karya-Nya, karena kecenderungan manusiawi untuk bisa memiliki sepenuhnya apa yang dipandang baik, menguntungkan, dan menyenangkan mereka. Hal ini bukan maunya Yesus. Yesus milik semua orang. Tuhan Allah mengutus Yesus untuk menyatakan khabar gembira kepada semakin banyak orang.
Saudara terkasih, kita yang hidup di zaman media internet ini, sering terjebak dalam budaya instan, apa yang dilakukan Yesus adalah menghentikan model instan ala setan. Perlu waktu, kerja keras sebagaimana kata Ayub, pun pengenalan yang lebih mengenai banyak hal. Instan yang diusung setan ternyata sering menggoda kita, sehingga bisa melenankan kita. Kemudahan, jalan pintas, dan pelemahan akan proses sangat menggejala dan menjadi sebentuk gaya hidup baru. Di sinilah peran spiritual, peran relasi kita dengan Tuhan, sehingga kita mau bertekun untuk mengenal rencana-Nya.
Kelekatan perlu kita singkirkan. Berbagai tawaran di era modern ini bisa menjerumuskan. Ketenaran, relasional, menghabiskan waktu dengan aneka hiburan dan relasi semu, bisa membawa pada kedangkalan makna. Kita bisa lekat dalam banyak hal. Yesus memberikan contoh bagaimana IA meninggalkan yang mengelu-elukan-Nya. Fokus akan apa yang harus dilakukan. Hal yang ternyata sangat pas, tepat, dan penting bagi kita yang hidup di era kecepatan dan persaingan sengit ini.
Apakah pilihan kita di dalam hidup ini? Lekat pada banyak hal, atau melepaskan diri dan menjadi pribadi bebas sebagai anak-anak Allah? Bd.eLeSHa.




Jumat, 02 Februari 2018

Belas kasih dan Hikmat

Sabtu Pekan Biasa IV (H)
1 Raj. 3:4-13
Mzm. 119:9,10,11,12,13,14
Mar. 6:30-34



1 Raj. 3:4-13

3:4 Pada suatu hari raja pergi ke Gibeon untuk mempersembahkan korban, sebab di situlah bukit pengorbanan yang paling besar; seribu korban bakaran dipersembahkan Salomo di atas mezbah itu.
3:5 Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu."
3:6 Lalu Salomo berkata: "Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini.
3:7 Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman.
3:8 Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya.
3:9 Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"
3:10 Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian.
3:11 Jadi berfirmanlah Allah kepadanya: "Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum,
3:12 maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorang pun seperti engkau.
3:13 Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorang pun seperti engkau di antara raja-raja.


Mar. 6:30-34

6:30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.
6:31 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat.
6:32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.
6:33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka.
6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka



Belas kasih dan Hikmat

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan mengenai dua hal besar. Dalam bacaan Injil, Yesus mengajarkan mengenai belas kasih. Bacaan pertama Salomo mengajarkan kepada kita mengenai hikmat dan kebijaksanaan. Dua hal yang mengedepankan keberpihakan pada yang lain, bukan diri sendiri. Sikap yang sangat relevan dan faktual bagi hidup kita bersama sebagai anak bangsa Indonesia.
Bagaimana Salomo memohon kepada Allah agar ia bisa membedakan yang baik dan buruk. Hikmat untuk dapat menjadi hakim yang adil. Sikap yang jarang kita temui di dalam kepemimpinan yang ada di sekitar kita.  Apa yang menjadi orientasi adalah diri dan kelompoknya. Berbeda dengan Salomo yang memilih menjadi pemimpin yang penuh hikmat dan bijaksana. Tuhan memberikan hal tersebut dan bonus atas kerendahan hatinya. Kekayaan dan umur panjang. Semua ada di dalam dirinya karena sikap rendah hati dan hikmatnya. Kaya bukan kesalahan namun hadiah, penghargaan, dan konsekuensi atas kinerja baiknya.
Yesus memberikan kepada kita pengalaman dan pengajaran. Kita perlu juga beristirahat dan menimba kekuatan. Dua hal yang sering dillupakan dan menjadi bumerang dalam hidup rohani dan harian kita. Kemampuan kita terbatas. Datang kembali kepada Sumbernya, yaitu Tuhan menjadi penting dan mendasar. Namun tidak melupakan belas kasihan. Bagaimana orang lain yang juga “menderita” tidak boleh kita abaikan. Yesus melihat orang banyak yang seperti domba kehilangan gembala itu IA terima, Ia ajar, di tengah keletihan-Nya. Bagaimana IA mendahulukan orang lain dan berpihak pada yang lebih membutuhkan.
Saudara terkasih, apa yang menjadi prioritas kita dalam keseharian kita? Apakah materi, atau kebijaksanaan? Spiritual atau hanya hal-hal yang bernuansa hiburan semata? Berani melihat derita orang lain atau malah hanya berfokus atas diri sendiri? Bersama dengan Tuhan dan di dalam Tuhan, pilihan dan tindakan kita akan benar. BD.eLeSHa.


Persembahan Yesus

Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah (P)
Mal.3:1-4
Mzm. 23:7-10
Ibr. 2:14-18
Luk. 2:22-40



Mal.3:1-4

3:1 Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.
3:2 Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.
3:3 Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.
3:4 Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.


Ibr. 2:14-18

2:14 Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;
2:15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.
2:16 Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.
2:17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.
2:18 Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.


Luk. 2:22-40

2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
2:23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah",
2:24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
2:25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
2:26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
2:27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
2:28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
2:29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
2:33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
2:35 -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."
2:36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya,
2:37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
2:38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
2:39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
2:40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.



Persembahan Yesus

Saudara terkasih, beberapa pribadi patut menjadi acuan, model, dan teladan bagi kita di dalam hidup beriman. Bagaimana Simeon dan Hana yang dengan tekun dan rendah hati untuk memohon dapat berjumpa dengan Sang Penyelamat.  Kepuasan mereka nyatakan dalam bentuk ungkapan syukur dan menyatakan diri akan suka cita.
Yosef dan Maria, merupakan orang tua yang beriman dan penuh jiwa spiritualitas. Mereka menyadari bahwa Yesus  bukan  milik mereka sendiri sebagai bagian tradisi dan sipiritualitas. Mereka persembahkan kembali kepada Allah. Sikap terbuka yang luar biasa besar.
Saudara terkasih, dengan demikian, apa yang bisa kita ambil sebagai berkat karunia Allah? pertamaa mengenai sikap menantikan dan mengenal Sang Mesias sebagaimana ditampilkan Simeon dan Hana. Mereka rendah hati, sabar, tekun, dan setia. Mereka tidak memaksakan kehendaknya kepada Allah. Ungkapan syukur atas kasih karunia yang mereka terima. Bagaimana kita bisa bersukur dan berterima kasih jika mendapatkan karunia sebesar itu. Syukur, atau malah menjadi terlena dan lupa. Hal yang setiap hari kita peroleh.
Melihat seluruh dinamika kehidupan ini tidak pernah terlepas dari kehendak dan karya Allah sebagaimana Maria dan Yosep tampilkan. Bagaimana kita menghidupi hari kita, merasa bawa itu kemampuan kita atau karena ada Allah yang hadir dan merencanakannya? Sering kemajuan teknologi, kemudahan dalam hidup ini membawa kita pada abai akan peranan Allah. apakah demikian? Bagaimana kita bisa melihat bahwa kita tidak ada apa-apanya tanpa DIA. Bukti paling sederhana, bagaimana kita bersama sesama untuk mencegah gunung api meletus. Sama sekali tidak berdaya bukan? Setinggi apapun ilmunya, sepintar apapun manusianya, banyak hal yang tetap mengandalkan Tuhan. Namun abai karena sikap pongah dan lupa diri. Hal yang sangat kontekstual untuk kita renungkan. BD.eLeSHa.



Tugas Para Rasul

Kamis Pekan Biasa IV (H)
1 Raj. 2:1-4,10-12
1 Taw.29:10.11ab.11d-12a.12bcd
Mrk. 6:7-13


1 Raj. 2:1-4,10-12

2:1 Ketika saat kematian Daud mendekat, ia berpesan kepada Salomo, anaknya:
2:2 "Aku ini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki.
2:3 Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju,
2:4 dan supaya TUHAN menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni: Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel.
2:10 Kemudian Daud mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud.
2:11 Dan Daud memerintah orang Israel selama empat puluh tahun; di Hebron ia memerintah tujuh tahun, dan di Yerusalem ia memerintah tiga puluh tiga tahun.
2:12 Salomo duduk di atas takhta Daud, ayahnya, dan kerajaannya sangat kokoh.


Mrk. 6:7-13

6:7 Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,
6:8 dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan,
6:9 boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju.
6:10 Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.
6:11 Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka."
6:12 Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat,
6:13 dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.



Tugas Para Rasul

Saudara terkasih, apa yang menjadi tugas para rasul tidak disebutkan secara eksplisit atau langsung oleh Yesus, hanya dikatakan mereka diberi kuasa atas roh-roh jahat. Sederhana tanpa ada kalimat lain. Mengapa demikian? sesuai dengan tradisi, utusan adalah sama dengan Pengutus, dalam hal ini Yesus Sang Guru. Kuasa yang Yesus miliki sama dengan apa yang akan disampaikan oleh para rasul. Dalam hal ini adalah menyembuhkan penyakit, mengusir roh jahat, dan yang utama adalah mewartakan tentang Kerajaan Allah.
Mengapa harus berdua-dua? Jelas bahwa mereka diutus untuk memberikan kesaksian, Kerajaan Allah sudah dekat sebagaimana Yesus wartakan. Kesaksian sejak dulu, hingga kini, perlu dua saksi, dan di sinilah berdua-dua itu mendapatkan hal pentingnya. Mereka bisa diyakini kesaksiannya karena berdua.
Peringatan untuk tidak membawa bekal, sebagai sarana pembuktian bahwa mereka benar-benar percaya kepada Tuhan Allah, Penyelenggara Ilahi. Bagaimana mereka bisa kredibel ketika mereka sendiri saja tidak bisa meletakkan kepercayaan kepada Allah. Mereka harus mulai dengan tindakan mereka dulu. Dalam konteks lain, hal ini bisa dimaknai bahwa mereka diutus hanya untuk sementara. Pun semua bisa dinilai dengan baik dan tidak ada yang tidak benar.
Yesus pun melarang para murid untuk tidak membawa makanan. Mereka, hidup mereka sepenuhnya bergantung pada Allah yang hadir melalui sesama mereka yang mau memberikan mereka tumpangan dan makanan tentunya.
Pesan Yesus yang lain adalah, selain mereka akan diterima pun ada penolakan atas mereka. Mereka harus meninggalkan tanah itu dan mengebaskan debu. Ini lagi-lagi bentuk tradisi Yahudi, di mana ketika mereka berjalan dari tanah bukan Yahudi jarus mengebaskan debu yang ada di alas kaki dan pakaian mereka. Agar mereka tidak terkena akan apa yang menimpa para penolak (bukan Yahudi) itu.
Saudara terkasih, apa yang menjadi  bahan permenungan kita adalah, bahwa kita harus bisa memberikan contoh melalui tindakan dan perilaku kita sebagai pengikut Yesus dalam kehidupan kita. Kesaksian dan keteladanan, keberanian menyatakan apa yang dirasakan, adanya satu antara pernyataan dan perbuatan. Hal yang sangat konkret bagi kita di dalam hidup bersama yang penuh dengan tipu muslihat dan pembiasaan fakta demi kepentingan. Perintah Yesus jelas, bahwa melalui tindakan kitalah kita bisa menjadi pewarta Karya Allah.
Keberanian menerima baik persaudaraan atau penolakan. Tidak perlu takut dan tidak perlu khawatir dengan atas penolakan pihak lain. Apa yang akan dihadapi para murid pun hari-hari ini makin gencar terjadi. Artinya itu bukan masalah yang besar, namun memang konsekuensi atas panggilan Allah. Penolakan dan  kesulitan itu bagian utuh atas panggilan kita sebagai umat Kristiani. BD.eLeSHa.