Sabtu, 09 September 2017

Pesta kelahiran Santa Perawan Maria

Pesta Kelahiran SP Maria (P)
Mi. 5:1-4a
Mzm. 13:6ab, 6cd
Mat. 1:1-16,18,23



Mi. 5:1-4a

5:1 Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.
5:2 Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel.
5:3 Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi,
5:4 dan dia menjadi damai sejahtera.



Mat. 1:1-16,18,23

1:1 Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
1:2 Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,
1:3 Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram,
1:4 Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon,
1:5 Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai,
1:6 Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,
1:7 Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa,
1:8 Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia,
1:9 Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia,
1:10 Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia,
1:11 Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel.
1:12 Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel,
1:13 Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor,
1:14 Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud,
1:15 Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub,
1:16 Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.
1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
1:23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.



Pesta kelahiran Santa Perawan Maria


Hari ini Gereja seluruh dunia merayakan “Pesta kelahiran Santa Perawan Maria”. Pesta ini sesungguhnya menunjukkan betapa Gereja mengasihi dan menghormati Bunda Maria sebagai wanita yang punya peranan besar di dalam karya keselamatan Allah. Sehubungan dengan pesta ini mungkin terlintas dalam benak kita pertanyaan berikut: “Landasan pemikiran apa yang melatarbelakangi pesta ini?”
Kita tidak bisa langsung menjawab pertanyaan ini dengan membeberkan peristiwa kelahiran Maria secara lengkap dan obyektif berdasarkan informasi dari dokumen – dokumen terpercaya Gereja seperti Alkitab. Yang mungkin bagi kita ialah melihat peranan dan kedudukan Maria di dalam rencana dan karya keselamatan Allah di dalam sejarah.
Tentang hal ini Gereja mengajarkan bahwa Allah – setelah kejatuhan manusia – menjanjikan seorang Penebus bagi umat manusia. Penebus itu adalah AnakNya sendiri. Untuk maksud luhur itu Allah membutuhkan kerjasama manusia; Allah membutuhkan seorang perempuan untuk mengandungkan dan melahirkan AnakNya. Kebeneran iman ini dikatakan Santo Paulus dalam suratnya kepada Galatia: “…Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan…” (Gal 4:4).
Siapa perempuan itu? Perempuan itu adalah Maria, seorang puteri keturunan Abraham. Dari sini Gereja mengajarkan bahwa Maria telah ditentukan Allah sedari kekal untuk mengandung dan melahirkan AnakNya. Untuk itu ia suci sejak lahirnya dan diperkandungkan tanpa noda dosa asal.
Dalam konteks pengakuan iman inilah, Gereja merasa perlu menentukan suatu hari khusus (yaitu: 8 September) untuk merayakan peristiwa kelahiran Maria. Dasar pertimbangan disini – barangkali sangat sederhana – ialah bahwa sebagai manusia, Maria tentu pernah lahir pada waktu dan tempat tertentu, dari orangtua dan suku tertentu. Injil – injil sendiri tidak mengatakan secara jelas bahwa Maria juga adalah keturunan Daud, sebagaimana Yusuf suaminya. Yang penting disini bukanlah ketepatan hari kelahiran itu tetapi ungkapan iman Gereja akan Maria sebagai perempuan yang ditentukan Allah untuk mengandungkan dan melahirkan AnakNya.

Seturut sejarah, mulanya pesta ini dirayakan di lingkungan Gereja Timur berdasarkan ilham dari tulisan – tulisan apokrif pada abad ke – 6; pada akhir abad ke – 7, barulah pesta ini diterima dan dirayakan di dalam Gereja Barat Roma. Iman Katolik.or.id

Kamis, 07 September 2017

Panggilan Para Murid

Kamis Pekan Biasa XXII (H)
Kol. 1:9-14
Mzm. 98:2-3ab,3c-4,5-6
Luk. 5:1-11



Kol. 1:9-14

1:9 Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,
1:10 sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah,
1:11 dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar,
1:12 dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.
1:13 Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;
1:14 di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.

Luk. 5:1-11

5:1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.
5:2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.
5:3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
5:4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."
5:5 Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."
5:6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.
5:7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.
5:8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."
5:9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap;
5:10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."
5:11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.



Panggilan Para Murid

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan bagaimana Lukas menjelaskan panggilan para murid. Khas Lukas dalam sinoptik yang mengisahkan ini. Bagaimana para murid yang diwakili Petrus menunjukkan kualitas pemuridan.
Pertama mereka berani meninggalkan semuanya karena mereka sudah tahu siapakah yang harus diikuti yaitu Yesus. Yesus yang sudah menyembuhkan mertuanya. Kali ini bahkan memberinya ikan yang melimpah.
Kedua, bukan soal ikan yang melimpah, namun karena ketaatan akan perintah Sang Guru yang memberinya buah melimpah dan berkenaan dengan kualitas diri dan siapa Yesus. Pengenalan lebih mendalam siapa Yesus. Ia mengenal Yesus sebagai Tuhan.
Ketiga, ia merasa berdosa dan tidak pantas dekat dengan Tuhan. Menjadi pribadi yang tahu diri dan tahu kualitas. Merasa tidak pantas untuk bersama-sama Yesus.
Keempat, ketidakpantasan yang disadari Petrus tidak menghalangi karya Yesus untuk memanggil mereka. Mereka mendapatkan tugas perutusan yang luar biasa besar, menjadi penjala manusia. Mereka pun dilarang untuk takut. Karena mereka menjalankan perutusan Yesus. Meskipun,
Kelima, panggilan ini bukan panggilan yang mudah karena mereka akan mengalami kesulitan sebagaimana mereka hadapi saat mencari ikan. Penolakan dan kesulitan akan menjadi bagian utuh atas panggilan itu.

Saudara terkasih, panggilan Tuhan tidak tergantung sikap kita, namun bahwa kita perlu juga mengatakan iya dan siap menangggung apapun tanpa takut karena di dalam DIA. Tuhan tidak menjanjikan kemudahan, hanya meminta kita untuk tidak takut. BD.eLeSHa.

Rabu, 06 September 2017

Penolakan dan Penerimaan Tidak Menghalangi Karya Yesus

Rabu Pekan Biasa XXII (H)
Kol. 1:1-8
Mzm. 52:10,11
Luk. 4:38-44



Kol. 1:1-8

1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara kita,
1:2 kepada saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, menyertai kamu.
1:3 Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu,
1:4 karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus,
1:5 oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil,
1:6 yang sudah sampai kepada kamu. Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia, demikian juga di antara kamu sejak waktu kamu mendengarnya dan mengenal kasih karunia Allah dengan sebenarnya.
1:7 Semuanya itu telah kamu ketahui dari Epafras, kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia.
1:8 Dialah juga yang telah menyatakan kepada kami kasihmu dalam Roh.


Luk. 4:38-44

1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara kita,
1:2 kepada saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, menyertai kamu.
1:3 Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu,
1:4 karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus,
1:5 oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil,
1:6 yang sudah sampai kepada kamu. Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia, demikian juga di antara kamu sejak waktu kamu mendengarnya dan mengenal kasih karunia Allah dengan sebenarnya.
1:7 Semuanya itu telah kamu ketahui dari Epafras, kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia.
1:8 Dialah juga yang telah menyatakan kepada kami kasihmu dalam Roh.



Penolakan dan Penerimaan Tidak Menghalangi Karya Yesus

Saudara terkasih, hari ini kita merenungkan mengenai siapa Yesus. Setan yang diusir mengenal IA sebagai Yang Kudus dari Allah, yang lain lagi mengenal-Nya sebagai Mesias. Kuasa-Nya luar biasa, bahkan setan pun mengakui, padahal kuasa jahat itu sering tidak mau mengakui namun di depan Yesus mereka mengakui.
Yesus jelas ditolak di Nazareth, jauh berbeda dengan di Kapernaum. Justru Yesus diterima bahkan mereka menghendaki untuk tetap tidak pergi, di sinilah perbedaan model Yesus dan manusiawi. Manusia jika senang, diterima, dan dicegah akan senang dan mengikutinya. Demikian pula jika ditolak, menjadi lemas, tidak bersemangat, dan enggan meneruskan. Ternyata Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak mudah terpengaruh dengan apa yang ada di luar diri kita. Penerimaan dan penolakan bukan ukuran dan alasan untuk kita berhenti atau terus berkarya.
Yesus mampu melakukan di tengah penolakan atau pun kekaguman karena IA tahu bahwa Ia menjalani perutusan da kuasa Tuhan Allah. Karena bukan semata Ia yang bekerja. Kekaguman dan penerimaan itu tetap membawa karyanya ke tempat yang lain, ke mana Ia memang harus mengajarkan karya keselamatan. BD.eLeSHa.



Selasa, 05 September 2017

Pengajaran dan Mukjizat Yesus

Selasa Pekan Biasa XXII (H)
1 Tes. 5:1-6,9-11
Mzm. 27:1,4,13-14
Luk. 4:31-37



1 Tes. 5:1-6,9-11

5:1 Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu,
5:2 karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.
5:3 Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman -- maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin -- mereka pasti tidak akan luput.
5:4 Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri,
5:5 karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.
5:6 Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.
5:9 Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita,
5:10 yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.
5:11 Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.

Luk. 4:31-37

4:31 Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat.
4:32 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa.
4:33 Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras:
4:34 "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah."
4:35 Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya.
4:36 Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: "Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar."
4:37 Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.



Pengajaran dan Mukjizat Yesus

Saudara terkasih, hari ini kita diajak Bunda Gereja untuk merenungkan Sabda Tuhan  mengenai pengajaran Yesus di sinagoga di sana secara rutin Ia mengajar dan melakukan mukjizat. Ketika Ia mengusir orang yang kerasukan justru penolakan orang Nazareth malah menjadi peneguhan Yesus sebagai Pribadi yang berasal dari Nazareth.
Apa yang dinyatakan orang Kapernaum identik dengan orang Nazareth soal permusuhan. Persamaannya lagi mereka kagum akan perkataan dan kuasa Yesus. Perbedaan menyolok nampak dalam sikap mereka yang kagum itu bagi orang Nazareth mereka mempertanyakan siapa Yesus yang dikenal sebagai anak tukang kayu yang mereka kenal. Tidak demikian dengan orang Kapernaum. Yang timbul selanjutnya adalah bukan penolakan, namun malah makin dikenalnya Yesus di mana-mana.
Saudara terkasih, apakah kita sudah mengenal Yesus? Jika sudah merasa mengenal-Nya? Apa tindakan kita? Apakah semakin dekat dan akrab kepada-Nya? Atau malah menjauh karena merasa tidak ada yang istimewa? Jika merasa tidak ada yang istimewa, benarkah demikian? Atau kita yang terlalu mudah menafikan perbuatan besar Yesus bagi hidup kita. Kita renungkan saja sejak bangun tidur, berapa kali kita sadar akan hidup kita, melakukan kehidupan sehari-hari secara sadar dan menikmatinya. Semua kegiatan yang cenderung spontan, rutin, dan berulang membuat kita tidak lagi menilai itu luar biasa. Padahal berapa banyak koordinasi untuk menggerakan pelupuk mata saja, hanya untuk berkedip. Rasa syukur, melihat itu sebagai karunia Tuhan menilai sebagai mukjizat menjadi tipis karena kita nilai sebagai hal yang lumrah.

Kita sudah diajar dalam berbagai cara, namun mengapa tidak sampai megakui bahwa mukjizat itu ada, nyata, dan setiap saat kita dapatkan. Kita cenderung merasa biasa dalam banyak hal. BD.eLeSHa.

Senin, 04 September 2017

Nabi Tidak Pernah Dihargai di Tempat Asalnya

Senin Pekan Biasa XXII (H)
1 Tes. 4:13-17a
Mzm. 96:1,3,4-5,6,8-9
Luk. 4:16-30



1 Tes. 4:13-17a

4:13 Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.
4:14 Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.
4:15 Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.
4:16 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit;
4:17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.


Luk. 4:16-30

4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:
4:18 "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku
4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."
4:22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?"
4:23 Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!"
4:24 Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
4:25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
4:26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.
4:27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."
4:28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.
4:29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
4:30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.



Nabi Tidak Pernah Dihargai di Tempat Asalnya

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan apa yang dilakukan Yesus di kampung halaman-Nya, Nazareth. Di mana justru Ia ditolak. Pengantar bacaan ini menyatakan Yesus sebagaimana biasanya, berarti Ia biasa mengajar di sana, namun kali ini mengenai mukjizat yang dilakukan di  Kapernaum. Yesus mengambil tema dari Yesaya yang akan Ia alami sendiri.
Penolakan dan mukjizat jarang dilakukan di tempat asalnya, karena sikap iri, dengki, dan sok tahu manusiawi. Hal ini  jamak terjadi, bahkan hingga kini, era modern sekalipun. Kepribadian manusia yang sangat purba ini pun masih dibawa. Bagaimana kita bisa mengapresiasi prestasi saudara sendiri coba? Namun jangan kaget kalau menyaksikan mereka fasih akan budaya lain. Mudah merasa tidak modern jika tidak ikut apa yang dari luar, padaha di dalam juga banyak hal baik.
Apa yang dialami Yesus merupakan pengajaran teologis, yang sangat jelas sehingga Ia mengajar jauh lebih luas, dan hingga ke sini sampai hari  ini. Penolakan yang membawa berkah. Sikap ragu pendengar Yesus juga merupakan wakil dari apa yang kita perbuat. Kita sering lebih melihat siapa yang berbicara bukan apa yang ia bicarakan. Dalam hal ini para pendengar berfokus pada Yesus di masa lalu, bukan mengenai apa yang IA ajarkan. Pengajaran yang luar biasa bisa hilang karena sikap pribadi yang telah menutup, merasa tahu, dan yang berbicara tidak pantas. BD.eLeSHa.


Minggu, 03 September 2017

Konsekuensi Panggilan dan Iman

MINGGU PEKAN BIASA XXII (H)
Yer. 20:7-9
Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9
Yer. 20:7-9
Mat. 16:21-27


Yer. 20:7-9

20:7 Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku.
20:8 Sebab setiap kali aku berbicara, terpaksa aku berteriak, terpaksa berseru: "Kelaliman! Aniaya!" Sebab firman TUHAN telah menjadi cela dan cemooh bagiku, sepanjang hari.
20:9 Tetapi apabila aku berpikir: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya", maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.

Yer. 20:7-9

12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.


Mat. 16:21-27

16:21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
16:22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
16:23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
16:25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
16:26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
16:27 Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.



Konsekuensi Panggilan dan Iman

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan sabda Tuhan untuk menyadari konsekuensi atas panggilan kita. Panggilan dalam arti luas bisa kita maknai sebagai kerja, profesi, atau perutusan kita. Bagaimana Yeremia di dalam bacaan pertama, yang menyatakan kalau imannya kepada Tuhan, sekaligus perutusan dari Tuhan itu membuat ia tidak leluasa, membuat ia dimusuhi, dan menjadikan ia susah untuk bertindak.
Dalam bacaan Injil dikisahkan dengan pengalaman apa yang akan dihadapi Yesus. Konsekuensi atas iman itu, bisa disikapi dengan ilahiah sebagaimana oleh Yesus dan sikap manusiawi ala Petrus. Simbolisasi yang tepat, bagaimana ingin enak, inginnya gampang, dan senangnya yang menyenangkan diri dan jalan yang dilalui itu mudah. Yesus yang menyatakan diri akan menderita dengan rela itu, oleh Petrus dinilai tidak sepantasnya.
Saudara terkasih, iman atau perutusan kita itu tidak akan berjalan begitu saja. Apa saja bisa terjadi, bahkan termasuk yang tidak mudah. Pencobaan dari Tuhan sering diartikan sebagai Tuhan yang tidak adil atau kejam, bagaimana Yeremia juga mengaku itu. Kita diajak dan diajari untuk setia di dalam segala sesuatu. Termasuk dalam keadaan yang tidak mudah.
Hari ini juga pembukaan Bulan Kitab Suci Nasional. Keuskupan Agung Semarang mengambil tema mengenai media sosial bagi kehidupan bersama. Hal ini tentu kemajuan yang tidak bisa ditolak. Menerima kemajuan itu juga berarti kita perlu bijaksana. Apalagi dalam menghadapi model pembusukan dengan media sosial, kita sebagai pengikut Kristus perlu menjaga jarak agar tidak ikut serta. Jika mendapatkan fitnah atau tuduhan yang tidak-tidak, tidak perlu memperpanjang, karena Tuhan pun mengajari untuk mengampuni, ingat peristiwa salib, di mana Tuhan memohonkan ampun bukan membalas dendam. BD.eLeSHa.


Sabtu, 02 September 2017

Talenta dan Pengembangannya

Sabtu Pekan Biasa XXI (H)
1 Tes. 4:9-11
Mzm. 98:1,7-8,9
Mat. 25:14-30




1 Tes. 4:9-11

4:9 Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah.
4:10 Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya.
4:11 Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu,

Mat. 25:14-30

25:14 "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
25:15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
25:16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
25:17 Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.
25:18 Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
25:19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.
25:20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.
25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
25:22 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.
25:23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
25:24 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
25:25 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!
25:26 Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?
25:27 Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
25:28 Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
25:29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
25:30 Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."



Talenta dan Pengembangannya

Saudara terkasih, dalam bacaan hari ini kita diajak untuk merenungkan mengenai kesetiaan, ketekunan, dan akhirnya kewaspadaan. Pertama mengenai kesetiaan, perumpamaan mengenai talenta dan pemilik hartanya. Mereka diberikan talenta sesuai dengan kesanggupanya. Yang mendapatkan lima dan dua talenta bisa mengembangkan dan memperoleh hasil yang memuaskan. Akhirya mereka mendapatkan pujian dan ikut dalam perjamuan besar. Ada kesetiaan dan ketekunan untuk menjalankan apa yang telah mereka katakan.
Berbeda dengan yang sanggup satu talenta, ia menanam apa yang ia peroleh, sehingga ketika harus mempertanggungjawabkan, masih utuh tanpa hasil. Apa yang dia dapatkan adalah diambil kembali dan malah mendapatkan hukuman.
Saudara terkasih, kita sering mudah puas, merasa cukup dengan apa yang kita dapatkan. Jika kita salah paling mudah menuduh pihak lain sebagai penyebabnya. Apa yang Tuhan sampaikan hari-hari ini sangat terasa dalam hidup bersama di dalam bernegara. Saling caci, iri, dan mengambinghitamkan pihak lain menjadi gaya hidup. kesetiaan dan ketekunan tidak lagi menjadi perhatian. Dengan demikian tentu kewaspadaan sama sekali tidak ada. Gampang menuding pihak lain sebagai penyebab. Murid Yesus bukan pribadi demikian, dan di sanalah kualitas kita diperoleh. Talenta kita adalah berkat yang harus dikembangkan. BD. eLeSHa.


Jumat, 01 September 2017

Berjaga-Jaga dan Bijaksana

Jumat Pekan Biasa XXI (H)
1 Tes: 4:1-8
Mzm. 97:1-2b,5-6,10,11-12
Mat. 25:1-13



1 Tes: 4:1-8

4:1 Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.
4:2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus.
4:3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,
4:4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan,
4:5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah,
4:6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.
4:7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.
4:8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.


Mat. 25:1-13

25:1 "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.
25:2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
25:3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,
25:4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.
25:5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.
25:6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!
25:7 Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.
25:8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.
25:9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.
25:10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.
25:11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!
25:12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.
25:13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."




Berjaga-Jaga dan Bijaksana

Saudara terkasih, saat-Nya Tuhan itu tidak ada yang bisa menduga dan tahu. Hari ini kita kembali diajak untuk merenungkan bahwa kita perlu bertindak berjaga-jaga dan bijaksana. Bijaksana adalah termasuk salah satunya berjaga-jaga. Bersiap atas banyak kemungkinan.
Apa yang dijadikan contoh adalah adanya lima gadis yang pintar, bijaksana, dan berjaga-jaga, siap akan segala sesuatu. Mereka yang mengiringkan pengantin menyiapkan pelitaa dengan cadangan minyaknya, karena bisa saja mempelai datang larut malam, dan prediksi mereka benar. Sisi lain, si gadis yang tidak bijaksana memperkirakan akan cepat dan dengan demikian tidak mempersiapkan minyak cadangan. Pikir pintas dan yang termudah.

Apa yang menjadi contoh tersebut memang gambaran manusiawi. Di mana kita sering merasa wah umurku akan panjang, tidak perlu sekarang memikirkan dunia setelah kematian. Aku masih muda sekarang waktunya untuk bersenang-senang. Kalau sudah tua, baru aktif ke gereja, merenungkan sabda Tuhan, dan berbuat kebaikan. Kan muda enaknya untuk berpesta pora, nanti, masih ada waktu, masih  bisa  bertobat, hidup hanya sekali, dan sejenisnya menjadi godaan bagi kita untuk hidup selaras dengan kehendak Tuhan. Memang ada yang tahu kita akan sampai tua? Tidak bukan? Jika demikian, lebih baik bijak dan berjaga-jaga untuk segala sesuatunya. BD.eLeSHa.