Sabtu, 15 Oktober 2016

Teresia dari Yesus

Pw. S. Teresia dr Yesus, PrwPujG (P)
Ef. 1:15-23
Mzm. 8:2-3a,4-5,6-7
Luk. 12:8-12



Ef. 1:15-23

1:15 Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus,
1:16 aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku,
1:17 dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.
1:18 Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus,
1:19 dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya,
1:20 yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga,
1:21 jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.
1:22 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.
1:23 Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.


Luk. 12:8-12

12:8 Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah.
12:9 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah.
12:10 Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.
12:11 Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu.
12:12 Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan."



Teresia dari Yesus

Di antara para wanita kudus di dalam sejarah Gereja, tak diragukan lagi St. Teresa dari Avila adalah orang yang menanggapi Kristus dengan hati yang bernyala-nyala. Ia dipanggil untuk menjadi sahabat Kristus. Teresa juga membuka jalan-jalan baru bagi kesetiaan dan pelayanan kepada Bunda Gereja yang kudus.
Masa Kanak-kanak dan Remaja
Teresa lahir di Avila, Spanyol pada tanggal 28 Maret 1515. Ayahnya bernama Alonso Sanchez de Cepeda. Ibunya Beatrice de Ahumada berasal dari keluarga bangsawan yang beriman teguh akan Kristus. Sejak kecil Teresa sudah mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya. Teresa memiliki seorang kakak perempuan, 4 orang kakak laki-laki dan 6 orang adik. Ibu Beatrice adalah istri ke-2. Istri pertama Alonso telah meninggal sebelum Alonso menikah dengan Ibu Beatrice, dan melahirkan 3 orang anak. Sejak kecil Teresa sering membicarakan Tuhan bersama kakaknya yang berusia 4 tahun lebih tua, yaitu Rodrigo. Keduanya sangat akrab dan memiliki hobi membaca mengenai kehidupan Santo/Santa.
Mereka mengagumi orang-orang kudus yang untuk selamanya dapat berjumpa dengan Allah. Pada waktu berusia 7 tahun Teresa sudah berkeinginan untuk menjadi seorang martir, karena menurut anggapannya pada waktu itu, menjadi martir adalah jalan yang tercepat dan termudah menuju surga. Oleh karena itu, Teresa mengajak Rodrigo untuk pergi ke daerah orang Mur yang kafir, dengan harapan agar mereka dipenggal kepalanya sehingga menjadi martir. Akan tetapi, di tengah perjalanan menuju daerah orang Mur, mereka bertemu dengan paman mereka di perbatasan kota. Maka rencana mereka pun diurungkan oleh sang paman yang segera mengantar mereka kembali ke rumah. 
Pada saat Teresa berusia kurang lebih empat belas tahun, ibunya meninggal. Dengan penuh kesedihan dia berlutut di hadapan patung Bunda Maria saat ditinggal pergi oleh ibunya. Ia memohon agar sejak saat itu Bunda Maria menjadi Bunda pelindungnya. Karena ketulusan hati dan imannya, sejak saat itu segala permohonan doanya melalui perantaraan Bunda Maria selalu dikabulkan dan mendapatkan apa yang didoakan.
Ketika remaja Teresa memiliki penampilan yang cantik dan menarik menyerupai ibunya. Pembawaannya juga cerdas, berbakat, dan lincah. Di Avila kecantikan Teresa sangat memikat setiap orang di sekitarnya, apalagi Teresa memiliki pribadi yang menarik, ramah, dan halus perasaannya. Banyak pemuda senang bergaul dan tertarik pada Teresa sehingga ayahnya menjadi cemas dan kemudian menitipkan Teresa di biara Santa Maria Bunda Kerahiman di Avila. Biara ini didirikan pada tahun 1508 dan terkenal karena suasananya yang suci, baik, dan tenang. Keluarga-keluarga yang terkemuka di kota Avila, dengan kepercayaan penuh, menyerahkan anak gadisnya kepada para suster Agustines itu untuk dididik di asrama susteran. Di sana Teresa mengalami pertobatan dan menyadari segala kelemahannya. Dan sejak tinggal di asrama Susteran itu, Teresa rajin mengikuti kegiatan doa di asrama juga setia melakukan doa rosario.
Saat tinggal di asrama Teresa cukup kerasan karena dia merasakan sudah terbebas dari kesia-siaan duniawi dan ia berkeinginan untuk memusatkan hati dan pikirannya kepada Tuhan. Namun, saat itu dia belum memiliki ketertarikan pada panggilan hidup membiara karena masih beranggapan hidup membiara itu menakutkan dan membosankan. Pandangan ini berubah saat dia bergaul akrab dengan ibu asramanya Sr. Maria Briceno. Teresa sering bercakap-cakap dengannya dan mencurahkan segala isi hatinya kepada Sr. Maria Briceno. Tuhan memakai suster ini untuk menerangi hati dan pikiran Teresa. Suster Maria sering bercerita mengenai kebahagiaan rohani yang disediakan Tuhan bagi mereka yang melepaskan segala-galanya demi cinta kepada Tuhan. Teresa pun mulai terbuka akan rahmat Tuhan. Setelah tinggal kira-kira satu setengah tahun di asrama, Teresa minta didoakan oleh Suster Maria agar Tuhan menunjukkan panggilan hidupnya karena Teresa memiliki kerinduan untuk mengabdi kepada Tuhan secara khusus.
Menjadi Biarawati dan Saat Berahmat yang Dialaminya
Pada saat berusia 20 tahun, Teresa diterima di Biara Karmel Avila, Spanyol. Keputusan untuk memasuki biara ini begitu mantap, meskipun pada mulanya ayahnya tidak mengizinkan putri kesayangannya itu menjadi seorang biarawati. Akan tetapi, cinta Teresa bagi Tuhan tak dapat dikalahkan oleh cintanya terhadap ayah dan keluarganya. 
Teresa sangat berbahagia berada di biara Karmel, dan kebahagiaan Teresa mencapai puncaknya setelah mengikrarkan kaul kebiaraannya. Sayangnya tak lama kemudian, meskipun jiwa Teresa rela mengikuti Tuhan, tubuhnya lemah. Teresa mengalami sakit keras dan menjadi lumpuh, bahkan hampir dijemput maut. Dalam penderitaan sakitnya itu Teresa semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Pada saat-saat itu ia dikaruniai banyak rahmat oleh Tuhan. Di antaranya ialah kesabaran yang tidak tergoncangkan oleh penderitaan yang dialaminya. Dia senantiasa mengucap syukur dan terimakasih kepada Tuhan dan para suster yang merawatnya. Di dalam sakit lumpuh yang dideritanya beberapa tahun itu, Teresa banyak merenungkan tulisan-tulisan St. Gregorius, ajaran-ajaran Santo Hieronimus dan juga membaca buku-buku karangan santo Agustinus. Cinta kasih kepada Tuhan dan sesamanya semakin berkobar, sehingga ia juga banyak berdoa bagi pertobatan orang-orang berdosa. Selama sakitnya itu, Teresa juga bersahabat denga pamannya, Don Pedro. Ia diberi sebuah buku tentang doa mistik: Abjad Ketiga, karangan Osuna. Buku ini membimbing Teresa kepada doa kontemplasi.
Selain itu, di dalam sakitnya ini Tuhan menganugerahkan kepada Teresa kesetiaan dalam doa keheningan batin dan mengangkat jiwanya kepada doa persatuan. Pengalaman doa Teresa ini menghasilkan kemajuan rohani yang besar. Meski lumpuh, ia tetap setia menghadiri Misa Kudus untuk memohon kesembuhan bagi dirinya. Ia juga secara khusus ia setiap hari memohon doa kepada Santo Yosef dan Bunda Maria untuk membebaskan ia dari segala kelemahan dan penyakitnya.
Oleh karena kebaikan Tuhan, akhirnya Teresa mengalami mujizat yang membuat orang-orang di sekelilingnya terheran-heran. Teresa mengalami kesembuhan kendatipun amat perlahan-lahan dan disertai amat banyak penderitaan sampai-sampai terkadang ia harus merangkak menyeret tubuhnya di lantai. Namun pada akhirnya, ia dapat bangun dan berdiri lalu berjalan. Kesehatan Teresa dipulihkan oleh Tuhan berkat bantuan doa dari Santo Yosef dan Bunda Maria.
Setelah mengalami kesembuhan kesucian Teresa semakin meningkat. Dorongan yang kuat untuk lebih mengabdi Tuhan semakin berkobar dalam hatinya. Teresa senantiasa mengucap syukur atas kesembuhannya dan tidak pernah jemu mengajak orang-orang untuk menghormati keluarga suci dari Nazareth yaitu Santo Yosef dan Bunda Maria yang telah menjadi perantara doa-doa untuk kesembuhannya.
Teresa sebagai Reformatris dan Pendiri Biara-biara
Teresa adalah seorang reformatris yang melahirkan pembaharuan Karmel. Di tempat biara yang lama peraturan-peraturan bersifat longgar, sehingga para tamu mengalir ke biara tak kunjung henti. Teresa terlibat juga dengan para tamu itu karena Teresa cukup disukai dan dikenal. Namun, ternyata bagi Teresa semua hal itu hanyalah pemborosan waktu belaka. Doa dan persatuan dengan Tuhan lebih memikat hatinya. Teresa merasakan perlunya cara hidup yang lebih tertutup.
Dengan mengalami banyak tantangan dari berbagai pihak, akhirnya berdirilah sebuah biara yang baru. Sifat biara yang diperbaharui oleh Teresa ini kecil, miskin, tertutup, dan juga disiplin. Biara pertama didirikan tanggal 24 Agustus 1562, dan diserahkan ke dalam perlindungan St. Yosef. Selanjutnya Teresa mengelilingi seluruh Spanyol dan mendirikan biara-biara lain. Berkat keuletan Teresa dan dukungan dari Bapa Suci yang mendukung usaha pembaharuan ini, dalam dua tahun berdirilah 17 biara. Selain itu, dia juga menyediakan rumah-rumah untuk kontemplasi pribadi bagi yang tertarik.
Teresa juga diberi izin oleh pimpinan biara untuk memperbaharui ordo Karmel pria. Memang pada masa itu sedang terjadi kebobrokan para imam. Rupanya Tuhan juga menghendaki pembaharuan tersebut, karena bersamaan pada waktu Teresa hendak memperbaharui ordo Karmel, ada seorang imam Karmelit muda yang sangat bersemangat untuk menjalani kehidupan Karmel yang lebih serius. Imam muda ini merasa apa yang dicita-citakan olehnya tidak ditemukan dalam ordonya. Tadinya ia bermaksud untuk pindah ke Biara Kartusia, suatu pertapaan yang amat keras, namun Tuhan mempertemukan imam muda ini dengan Teresa Avila. Imam muda ini tak lain adalah St. Yohanes dari Salib.
Biara pertama untuk para imam Karmel ini didirikan tahun 1568 di sebuah desa kecil Duruelo, Spanyol dengan dua penghuni, yaitu Antonius dari Yesus dan Yohanes dari salib. Kelak Yohanes Salib dipandang Teresa sebagai orang yang kudus karena mencapai tingkat kerohanian yang amat tinggi. Kepada para susternya, Teresa menganjurkan untuk memilih Yohanes Salib sebagai pembimbing rohani karena saat itu bimbingannyalah yang terbaik dan teraman.
Beberapa Karya dan Ajaran Teresa Avila
Selama hidupnya di biara, Teresa banyak menulis karangan, di antaranya riwayat hidupnya, Jalan Kesempurnaan, dan Puri Batin. Beberapa karyanya yang ia tulis merupakan buah ketaatannya kepada Bapa Pengakuannya yang meminta ia untuk menulis.
"Riwayat Hidup" mengisahkan tentang kerahiman Allah terhadap diri Teresa. Dia menceritakan kejadian-kejadian penting di masa hidupnya. Isi dari buku ini lebih ditekankan pada pembahasan tentang doa. Bagi orang yang berniat untuk belajar mengenai doa bisa sangat terbantu dengan membaca buku ini.
"Puri Batin" melukiskan tentang perjalanan rohani seseorang. Di dalam buku ini, perjalanan doa diumpamakan seperti seseorang yang akan memasuki suatu puri atau istana. Banyak kesulitan dan rintangan yang harus dilaluinya sebelum sampai di ruang pusat, yaitu tempat Raja bersemayam. Maksud dari pelukisan seperti itu adalah bahwa untuk mencapai persatuan doa yang mesra dengan Allah yang melebihi segala kebahagiaan duniawi, orang harus melalui pintu doa, dengan mengatasi segala kesulitan dan rintangan. Karya ini merupakan penyempurnaan dari karangan yang sudah ditulis sebelumnya, yaitu: "Jalan Kesempurnaan".
"Jalan Kesempurnaan" ditulis oleh Teresa bagi suster-susternya dari biara pertama, Biara Santo Yosef di Avila. Tulisan ini didasari renungan-renungannya tentang doa Bapa Kami.
Karya-karya Teresa Avila mampu menyentuh hati para uskup dan Imam agar tetap memperbaharui keinginan dan kebijaksanaan serta kekudusan sehingga menjadi 'cahaya Gereja'. Dia juga mengajak kaum religius untuk mengikuti nasihat Injil dengan sempurna, serta mengobarkan gairah kaum awam Kristen dengan ajarannya tentang doa dan cinta kasih, cara universal menuju kekudusan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh St. Teresa Avila, "Doa bukanlah banyak berpikir, tetapi banyak mencinta."
Teresa meninggal pada tanggal 15 Oktober 1582. Digelarkan menjadi orang Kudus oleh Gereja tanggal 12 Maret 1622, dan juga diberi gelar Pujangga Gereja putri pertama tanggal 27 September 1970.
 
Beberapa Teladan Hidup Santa Teresa 
Seringkali orang waktu menderita sakit mengalami pemberontakan bahkan keputusasaan. Juga dalam hidup doa adakalanya merasa kering secara rohani. Semoga dengan mengikuti teladan dan ajaran Teresa orang-orang dimampukan untuk menggunakan masa sakitnya dengan tujuan mencari kesempurnaan hidup sehingga menganggap penyakit adalah suatu rahmat yang dikehendaki Tuhan dan dapat membawakan hal-hal yang baik bagi jiwa seseorang . Juga tetap setia dalam kekeringan doanya dan selalu berusaha mencari kehendak Tuhan.
Teresa Avila memiliki penghormatan yang besar kepada Santo Yosef dan Bunda Maria dan senantiasa mengucap syukur atas kesembuhan yang dialaminya berkat perantaraan doa-doa mereka. Teresa Avila senantiasa mengingat dan merenungkan kesetiaan Bunda Maria dan Santo Yosef yang sudah memelihara Yesus, juga menghadapi penderitaan dan kepahitan yang dialami oleh keluarga Nazaret ini. Marilah kita juga mengingat saat bayi Yesus dilahirkan. Ketika itu Maria dan Yosef harus mengalami krisis, ketakutan dan kecemasan karena bayi Yesus akan dibunuh oleh Raja Herodes. Maria dan Yosef harus pergi melewati padang gurun menembus pekat dan dinginnya malam dengan memeluk bayi Yesus. Maria dan Yosef selalu mencari dan melakukan kehendak Allah Bapa-Nya.
Bagi Anda yang mungkin saat ini sedang mengalami krisis, ketakutan, atau kecemasan karena situasi yang tak menentu di dalam kehidupan ini: marilah kita belajar dan merenungkan kehidupan Santo Yosef dan Bunda Maria yang memeluk bayi Yesus, yang tidak pernah lalai untuk mencari dan melakukan kehendak Allah dalam segala kesulitan dan penderitaan mereka, sebagaimana yang dilakukan juga oleh Teresa dari Avila. BD.
eLeSHa.

Sumber: www.carmelia.net




Bersaksi Tanpa Takut

Jumat Biasa Pekan XXVIII (H)
Ef. 1:11-14
Mzm. 33:1-2, 4-5,12-13
Luk. 12:1-7



Ef. 1:11-14

1:11 Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya --
1:12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.
1:13 Di dalam Dia kamu juga -- karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu -- di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.
1:14 Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Luk. 12:1-7

12:1 Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.
12:2 Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.
12:3 Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah.
12:4 Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
12:5 Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!
12:6 Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah,
12:7 bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.
                                                                                                                                 

Bersaksi Tanpa Takut

Saudara terkasih, hari ini  kita diajak untuk merenungkan sabda Tuhan yang mengajak kita untuk berani bersaksi tanpa ketakutan. Apa yang kita nyatakan mengenai DIA dengan lantang. Namun perlu hati-hati, agar tidak terpengaruh oleh ragi atau cara hidup kaum Farisi yang munafik. Apa yang Ia nyatakan pun masih konkret hingga hari ini, bagaimana kita masih menghadapi hal yang sama.
Sering kita saksikan bahwa orang menutup-nutupi sesuatu atau hal-hal yang berkaitan dengan kemunafikan. Hal ini konkret ada di sekeliling kita. Persaudaraan sejati sering dikelabui demi materi, harta benda, dan itu yang tidak Tuhan kehendaki. Keberanian menyatakan kebenaran dengan segala konsekuensinya.
Kisah lebih dekat dan akrab ketika Yesus menyebut para murid sahabat, mereka termasuk kita hari ini, dianggap sahabat yang tidak boleh takut akan kematian. Bahwa konsekuensi menjadi murid-Nya itu salah satunya ada derita hingga kematian. Namun tidak perlu takut jika yang membunuh itu hanya menghacurkan badan bukan jiwa tidak perlu takut.
Manusia itu berharga ini yang membuat tidak perlu takut. Ada Allah yang akan memelihara dan menguatkan. Betapa agung dan besarnya Allah dan manusia sangat berharga di hadapan-Nya. Bagaimana burung pipit saja dipelihara, mosok manusia tidak, kan tidak mungkin.
Segala kekhawatiran dan kecemasan biarlah Ia ambil alih dan hidup kita tenang. Hidup yang bisa memberikan kesaksian akan cinta kasih-Nya. BD.eLeSHa.


Kamis, 13 Oktober 2016

Munafik

Kamis Biasa Pekan XXVIII (H)
Ef. 1:1-10
Mzm. 98:1,2,3ab,3cd-4, 5-6
Luk. 11:47-54



Ef. 1:1-10

1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus.
1:2 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.
1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.
1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
1:5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
1:6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.
1:7 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,
1:8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.
1:9 Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus
1:10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.


Luk. 11:47-54

11:47 Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka.
11:48 Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya.
11:49 Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya,
11:50 supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan,
11:51 mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini.
11:52 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi."
11:53 Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal.
11:54 Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.



Munafik

Saudara terkasih, makam itu gambaran yang menyimbolkan sebuah bentuk yang tidak sama antara dalam dan luar. Bagaimana makam itu tentu isinya adalah barang yang membusuk, sedang luarnya bisa putih, mewah, dan bisa juga mengilap dan luar biasa megah. Yesus menambahkan itu adalah makam nabi, artinya, bahwa generasi Yesus dalam arti paraa ahli Taurat dan orang Farisi zaman itu menolak mengatakan telah membunuh para nabi. Mereka memang tidak melakukan itu, namun nenek moyangnya jelas saja melakukannya. Ada ikatan leluhur yang hendak dikatakan Yesus. Mereka membunuh nabi dan generasi Yesus ini menolak Yesus yang memiliki perutusan kenabian.
Yesus juga mengecam orang Farisi dan ahli Taurat yang menguasai ilmu pengetahuan untuk mereka sendiri, dan tidak jarang mereka menahan orang untuk bisa memahami apa yang seharusnya mereka ketahui. Keegoisan dan keinginan memenuhi hasrat cinta diri berlebihan sering membuat mereka bersikap aku lebih dulu.
Bagaimana mereka hendak mengantar kepada keselamatan, namun mereka sendiri malah memberikan beban  yang seolah tak tertanggungkan lagi, sedang mereka tidak ikut membawa. Ini yang menjadi kecaman Yesus. Mereka tidak bersama, namun terpisah. Ini lah yang menjadi catatan Yesus. Sikap munafik yang membuat penampilan berbeda dengan fakta yang ada.BD.eLeSHa.


Rabu, 12 Oktober 2016

Lahiriah dan Batiniah

Rabu Pekan Biasa XXVIII (H)
Gal. 5:18-25
Mzm. 1:1-2,3,4,6
Luk. 11:42-46



Gal. 5:18-25

5:18 Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.
5:19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,
5:20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,
5:21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.
5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,

Luk. 11:42-46

11:42 Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
11:43 Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.
11:44 Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya."
11:45 Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: "Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga."
11:46 Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.


Lahiriah dan Batiniah

Saudara terkasih, apa yang Yesus kehendaki ialah apa yang mendasar, spiritual, dan yang batiniah. Selama ini Yesus menghendaki kita lebih mendalam bukan hanya hal yang remeh temeh. Hal yang lahiriah namun menjauhi yang batiniah dan itu membuat menjadi sombong, tinggi hati, dan menjauhi Tuhan Allah dan sesama. Para tokoh dan pemimpin agama dan masyarakat itu seharusnya membimbing bukan malah menyesatkan sebagaimana disaksikan Yesus di depan hidup-Nya. Sikap sok penting dan merasa paling suci, paling setia, inilah yang tidak Yesus kehendaki.
Saudara terkasih, perilaku ahli Taurat yang memperoleh kecaman karena mereka meletakkan beban yang tak terpikul bagi orang, namun mereka sama sekali tidak ikut menggotong, menyentuh saja tidak mau. Mereka juga mengambil kunci pengetahuan namun mereka juga tidak mau memasukinya.
Tafsiran mereka atas hukum demikian rumit sehingga orang biasa bisa tersesat dan tidak bisa memenuhinya. Mereka hanya berkotbah namun tanpa melakukan. Satunya perkataan dan perbuatan menjadi persoalan dalam budaya kala itu.
Saudara terkasih, ternyata sikap demikian hari-hari ini kita hadapi. Banyak orang yang merasa diri paling benar, paling suci, dan paling benar, namun malah menghujat Tuhan dan kebaikan-Nya. Mana ada Tuhan Allah menyatakan ciptaan-Nya sendiri untuk saling bertikai? Mana ada juga Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya untuk saling berkelahi atas nama-Nya? Jelas saja ini adalah ulah manusia sombong dan merasa diri paling di depan sesama dan Tuhan. BD.eLeSHa.


Hal yang Esensial

Selasa Biasa Pekan XXVII (H)
Gal. 4:31-5:6
Mzm. 119:41,43,44,45,47,48
Luk. 11:37-41



Gal. 4:31-5:6

4:31 Karena itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.
 5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.
5:2 Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.
5:3 Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.
5:4 Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.
5:5 Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.
5:6 Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.


Luk. 11:37-41

11:37 Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan.
11:38 Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.
11:39 Tetapi Tuhan berkata kepadanya: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.
11:40 Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?
11:41 Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.


Hal yang Esensial

Saudara terkasih, ketengangan Yesus dengan orang Farisi makin memuncak. Kali ini soal mencuci tangan sebelum makan. Apa yang menjadi tuntutan kaum Farisi ini sebenarnya bukan tuntutan Taurat namun ciptaan mereka sebagai bagian dari tradisi nenek moyang.
Apa yang Yesus kritik tidak semata soal cuci tangan, namun lebih luas, di mana perilaku kaum Farisi dan ahli Taurat yang sering menjauhkan diri dari Allah. Perilaku yang membebani dan menjaga jarak dengan pusat kasih itu sendiri.
Yesus menggunakan bagaimana orang peduli dengan bagian luar yang dicuci bersih, namun lupa untuk isinya. Mempersoalkan persepuluhan namun abai akan keadilan, mencari kehormatan, menjadi seperti kuburan yang bersih luarnya tetapi dalamnya penuh dengan kotoran.

Saudara terkasih, kita sering banyak yang berfokus pada hal yang tidak mendasar, mempersoalkan pakaian, namun abai akan hati. Meributkan cara, namun mengabaikan motivasi dan hasil. Bagaimana kita sering ribut mengenai orang yang tidak pernah datang dalam ibadat lingkungan padahal sedang mengusahakan sesuap nasi bagi hidupnya. Meminta orang untuk memberikan sumbangan ini itu demi pembangunan Gereja, tanpa mau tahu apa yang mereka lakukan untuk dapat mencukupi kehidupan sehari-harinya. Tidak ada yang salah untuk ibadat lingkungan, atau pembangunan gereja, namun perlu juga tahu bagaimana kehidupan sehari-hari umat juga perlu dijadikan pertimbangan. BD.eLeSHa.

Senin, 10 Oktober 2016

Tanda dan Dasar Kepercayaan

Senin Biasa Pekan XXVIII (H)
Gal. 4:22-24,26-27,31-5:1
Mzm. 113:1-2,3-4,5a,6-7
Luk. 11:29-32



Gal. 4:22-24,26-27,31-5:1

4:22 Bukankah ada tertulis, bahwa Abraham mempunyai dua anak, seorang dari perempuan yang menjadi hambanya dan seorang dari perempuan yang merdeka?
4:23 Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging dan anak dari perempuan yang merdeka itu oleh karena janji.
4:24 Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar.
4:26 Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita.
4:27 Karena ada tertulis: "Bersukacitalah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami.
4:31 Karena itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.
5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.


Luk. 11:29-32


11:29 Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.
11:30 Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini.
11:31 Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!
11:32 Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!"



Tanda dan Dasar Kepercayaan

Saudara terkasih, bagaimana usai mengisahkan kekaguman, kali ini ada yang menanyakan tanda. Tanda adalah dasar bagi kepercayaan sebagaimana biasanya dilakukan umumnya budaya Yahudi di waktu itu. Musa menunjukkan tanda di padang gurun, juga Mesir. Demikian juga Elia memberikan tanda di puncak Gunung Karmel. Percaya karena adanya tanda.
Meminta tanda bisa diartikan sebagai menolak atas kuasa yang hadir, dalam hal ini akan kedatangan Yesus. Yesus menyatakan tanda melalui tanda Yunus.
Apa yang dilakukan Yesus selama ini adalah tanda toh mereka tetap tidak percaya. Sama juga dengan apa yang dilakukan Yunus untuk Niniwe. Sama saja mereka tetap tidak percaya. Niniwe masih bisa melihat pewartaan Yunus, sedang apa yang dilakukan Yesus ternyata tidak banyak membantu.
Saudara terkasih, sering pula kita meminta tanda atau syarat untuk segala sesuatu. Termasuk kepada Tuhan. Apa yang kita mau sesuai dengan kehendak kita, bukan soal keinginan dan rancangan Tuhan. Jika itu berbeda maka dinyatakan sebagai bukan tanda. Bagaimana kita menerima itu adalah kualitas iman kita. BD.eLeSHa.




Imanmu Telah Menyelamatkanmu

HARI MINGGU BIASA PEKAN XXVIII (H)
2 Raj. 5:14-17
Mzm. 98:1,2,3ab,3cd-4
2 Tim. 2:8-13
Luk. 17:11-18


2 Raj. 5:14-17

5:14 Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.
5:15 Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!"
5:16 Tetapi Elisa menjawab: "Demi TUHAN yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan, sesungguhnya aku tidak akan menerima apa-apa." Dan walaupun Naaman mendesaknya supaya menerima sesuatu, ia tetap menolak.
5:17 Akhirnya berkatalah Naaman: "Jikalau demikian, biarlah diberikan kepada hambamu ini tanah sebanyak muatan sepasang bagal, sebab hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan korban bakaran atau korban sembelihan kepada allah lain kecuali kepada TUHAN.


2 Tim. 2:8-13

2:8 Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.
2:9 Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.
2:10 Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.
2:11 Benarlah perkataan ini: "Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia;
2:12 jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita;
2:13 jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."

Luk. 17:11-18

17:11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.
17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh
17:13 dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!"
17:14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.
17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,
17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.
17:17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?
17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"
17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."


Imanmu Telah Menyelamatkanmu

Saudara terkasih, hari Minggu ini kita merenungkan bagaimana timbal balik dan adanya tanggapan positif di dalam keselamatan. Iman dan wahyu sangat perlu adanya ketersalingan, bagaimana Allah mengenalkan Diri dan ada tanggapan dan jawaban kita yang sepadan tentunya.
Kali ini Yesus menggunakan hal yang mirip soal hal ini, bagaimana sepuluh orang yang disembuhkan hanya satu yang memberikan jawaban dan timbal balik yang sepadan. Bagaimana tidak, ketika ada satu yang kembali dan menyatakan ungkapan syukur dan terima kasih.

Saudara terkasih, bagaimana kita bisa mengatakan kebenaran, meskipun jika dasar hidup kita tidak seperti yang semestinya, lihat bagaimana gambaran itu adalah orang Samaria, di mana gambaran itu adalah orang yang tidak beragama, tidak tahu budaya dan hukum, namun mereka pun diselamatkan karena sikap imannya. Keselamatan tidak peduli asal usulnya, namun bagaimana menanggapi tawaran keselamatan Allah itu. BD.eLeSHa.

Yang Berbahagia

Sabtu Biasa Pekan XXVII (H)
Gal. 3:22-28
Mzm. 103:2-3,4-5,6-7
Luk. 11:27-28



Gal. 3:22-28

3:22 Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya.
3:23 Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan.
3:24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.
3:25 Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.
3:26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.
3:27 Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.
3:28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.
3:29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.


Luk. 11:27-28

11:27 Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau."
11:28 Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."



Yang Berbahagia

Saudara terkasih, dalam bacaan kali ini, Yesus mengajak kita untuk melihat esensi kebahagiaan. Ukuran kebahagiaan manusia seperti dikisahkan melalui seorang ibu bahwa kebahagiaannya adalah kesuksesan anak-anaknya.
Pandangan ini tidak disalahkan oleh Yesus namun dipertegas oleh Yesus bahwa kebahagiaan itu lebih mendalam lagi, dengan melihat bahwa yang bahagia itu karena ketaatannya pada Allah semata.
Kebahagiaan karena prestasi, atau karena anak-anak yang baik tidak salah di dalam penilaian dan pandangan Yesus,namun ada yang lebih besar yaitu dalam contoh Maria. Sebagai Ibu ia tentu bahagia namun lebih dalam karena ia menyatakan mendengarkan dan taat akan Allah.
Kita tentu akan bahagia mendapatkan hasil luar biasa, prestasi, atau berkat apapun rupanya, namun tentu jauh lebih membahagiakan jika kita mendengarkan kehendak-Nya dan menjalaninya dengan tekun.
Saudara terkasih, apakah kebahagiaan kita sudah hingga melihat Tuhan dan karya-Nya yang bisa kita taati? Jika iya, kita patut berbahagia. Sabda-Nya adalah jalan kita untuk bahagia. BD.eLeSHa.



Jumat, 07 Oktober 2016

Maria Ratu Rosario

Pw. SP Maria Ratu Rosario (P)
Gal. 3:7-14
Mzm. 111:1-2,3-4,5-6
Luk. 11:15-26

Gal. 3:7-14

3:7 Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham.
3:8 Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: "Olehmu segala bangsa akan diberkati."
3:9 Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.
3:10 Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat."
3:11 Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman."
3:12 Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya.
3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"
3:14 Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.

Luk. 11:15-26
11:15 Tetapi ada di antara mereka yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan."
11:16 Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia.
11:17 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh.
11:18 Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.
11:19 Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu.
11:20 Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.
11:21 Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya.
11:22 Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya.
11:23 Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan."
11:24 "Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu.
11:25 Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur.
11:26 Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula."


Maria Ratu Rosario

Devosi non-liturgi yang sangat populer di kalangan umat Katolik ialah'Doa Rosario'. Di dalamnya umat beriman merenungkan karya penebusan Kristus di dalam 15 peristiwa Sejarah Keselamatan, sambil mendaraskan 1 X Bapa Kami, 10 X Salam Maria dan 1 X Kemuliaan, didahului oleh pendarasan Syahadat Para Rasul, 1 X Bapa Kami, 3 X Salam Maria dan 1 X Kemuliaan. Pesta Rosario Suci dirayakan oleh seluruh Gereja pada tanggal 7 Oktober dalam Minggu pertama bulan Oktober.
Perihal doa Rosario ini terdapat anggapan umum berikut: bahwasanya di masa lampau doa Rosario seperti yang kita kenal dewasa ini di dalam Gereja dianggap sebagai pemberian Santa Maria sendiri kepada salah seorang pencintanya, yaitu Santo Dominikus, pendiri Ordo Pengkotbah. Tetapi legenda indah ini tidak dapat diperdamaikan dengan data sejarah yang berhubungan dengan adanya kebiasaan berdoa Rosario itu. Oleh karena itu untuk memahami sedikit lebih dalam perihal doa Rosario itu, kiranya baik kalau dikemukakan di sini sedikit sejarah perkembangan doa Rosario itu.

Catatan sejarah tentang awal mula praktek doa Rosario diambil dari kebiasaan doa di kalangan para rahib di dalam kehidupan monastik zaman dulu. Pada masa itu para rahib biasanya setiap hari mendaraskan 150 buah Mazmur (Doa Ofisi) sebagaimana terdapat di dalam Kitab Suci. Para rahib awam yang tidak tahu membaca atau yang buta huruf mengganti pendarasan Mazmur itu dengan 150 buah doa yang lain. Biasanya doa pengganti itu ialah doa 'Pater Noster' (Bapa Kami). Doa "Bapa Kami" memang sudah semenjak Gereja perdana dianggap sebagai doa Gereja yang paling penting. Para calon baptis yang sedang dalam masa katekumenat, harus menghafal doa Bapa Kami itu di samping Kredo/Syahadat Para Rasul. Untuk mempermudah mereka mengetahui berapa sudah doa Bapa Kami yang didaraskan, mereka menggunakan seutas tali bersimpul atau bermanik-manik. Oleh karena tali itu dipakai untuk menghitung doa "Pater Noster" maka tali itu lazim disebut juga "Pater Noster".
Dari sejarah perkembangan devosi diketahui bahwa sejak zaman dahulu umat Kristen telah menaruh devosi yang tinggi kepada Santa Perawan Maria. Devosi-devosi ini dilestarikan oleh para rahib di dalam biara-biara. Pada masa abad, ke-11 berkembanglah kebiasaan memberi salam kepada Bunda Maria bila seseorang melewati patung atau arca Maria. Pada masa itu belum dikenal bentuk doa 'Salam Maria' seperti dewasa ini. Dahulu doa itu masih singkat, hanya terdiri dari bagian pertama yang berakhir dengan kata-kata: "dan terpujilah buah tubuhmu". Jumlah doa Salam Maria yang sempat didaraskan dihitung pada tali 'Pater Noster' itu. Lama kelamaan berkembanglah kebiasaan untuk menggantikan doa Bapa Kami dengan doa Salam Maria. Jumlahnya tetap 150 sesuai jumlah Mazmur yang didaraskan para rahib. Karena pada masa itu 150 buah Mazmur yang didaraskan itu sudah dibagi ke dalam tiga bagian, masing-masingnya terdiri dari 50 buah, maka doa Salam Maria yang didaraskan oleh para rahib buta huruf itu pun dibagi dalam tiga bagian dengan masing-masing bagian terdiri dari 50. Rangkaian Salam Maria yang terdiri dari 50 buah itu disebut 'Korona' (=mahkota). Kata ini mengingatkan kita akan hiasan-hiasan kembang menyerupai mahkota yang biasanya dibuat pada arca-arca Bunda Maria. Bagian kedua doa 'Salam Maria', yaitu "Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin", menjadi doa resmi semenjak Paus Pius V (1566-1572) meresmikan terbitan 'Breviarium' (=doa harian Gereja) pada tahun 1568. Namun bagian kedua itu baru diterima umum pada abad XVII.
Bagian pertama doa "Salam Maria" yang melukiskan tentang peristiwa kunjungan malaekat Gabriel kepada Maria dan kesediaan Maria menerima Al Masih dalam rahimnya, diambil dari Kitab Suci. Itulah peristiwa awal 'Penjelmaan Juru Selamat'. Sukacita itu kemudian diungkapkan Maria sendiri kepada Elisabeth, sanaknya yang pada waktu itu sudah hamil juga. Sejak abad ke-12, doa 'Salam Maria' mulai diulang-ulang selama berlangsungnya doa untuk mengenang 'Lima Sukacita Santa Maria' (Kabar Sukacita, Kelahiran Yesus, Kebangkitan Yesus, Kenaikan Yesus, dan Pengangkatan Maria ke Surga). Lama kelamaan 'Lima Peristiwa Sukacita' itu, ditambah antara lain dengan peristiwa: Penampakan Tuhan (epifani), Pentakosta atau Kunjungan kepada Elisabeth, sehingga menjadi 'Tujuh Sukacita Maria'. Pada abad XIII, Korona Ketujuh Sukacita Maria ini mulai dipropagandakan oleh Ordo Fransiskan; dan pada abad XIII mantaplah sudah kebiasaan merenungkan Limabelas Sukacita Maria.
Pada Abad Pertengahan, umat Kristen mempunyai devosi istimewa kepada 'Lima Luka Yesus', yaitu di tangan, kaki dan lambung. (bdk. Yoh 20:20). Sementara itu ada pula devosi kepada 'Lima Penumpahan Darah Yesus', yaitu pada saat sakratulmautnya, saat didera, saat dimahkotai duri, saat disalibkan dan ditikam lambungNya. Karena semenjak dulu Bunda Maria dipandang sebagai peserta ulung dalam sengsara Yesus, maka tidak mengherankan, bahwa sejalan dengan devosi kepada Yesus yang bersengsara, berkembang pula devosi serupa kepada Maria yang berdukacita. Devosi itu dikembangkan oleh Ordo Fransiskan dan Serikat Hamba Maria. Maka sejak abad XIV berkembanglah devosi kepada 'Lima Dukacita Maria', ataupun 'Tujuh Dukacita Maria', yang dialaminya selama Yesus bersengsara dan wafat. Devosi kepada 'Tujuh Dukacita Maria' itu berkembang pesat di kalangan umat Kristen Eropa sehubungan dengan menjangkitnya wabah sampar yang mengerikan di sana.
Kebiasaan untuk menghubungkan doa "Salam Maria" dengan renungan tentang sejumlah peristiwa Yesus, sudah ada sejak abad XIV. Ada pula kebiasaan untuk menambah kata-kata ". . . buah tubuhmu", dengan nama Yesus dan dengan sebuah kalimat pelengkap, misalnya, "Yang didera dengan kejam", "Yang dimahkotai duri", dsb. Dalam abad XV berkaryalah seorang biarawan bernama Dominikus yang diberi julukan "dari Prusia". Ia seorang novis, yang sesuai dengan anjuran pemimpin biaranya, berusaha menggabungkan doa Rosario (yang terdiri dari 50 Salam Maria) dengan renungan mengenai kehidupan Yesus dan ibuNya. Pada tahun 1410, ia menyusun 50 seruan penutup doa "Salam Maria". Seruan-seruan penutup itu diterima dengan antusias sekali dan segera menjadi populer, baik dalam bahasa Latin maupun dalam bahasa Jerman. Seruan-seruan tambahan itu biasanya dibacakan oleh orang-orang yang melek huruf.
Mulai tahun 1475, muncullah di dalam Gereja tarekat-tarekat religius yang mempopulerkan doa Rosario. Dengan munculnya teknik cetak, daftar lima belas peristiwa yang ditetapkan sebagai landasan renungan selama doa rosario, mulai dikenal di mana-mana. Sebuah buku kecil yang dicetak di Ulm pada tahun 1483 menganjurkan tiga rangkaian gambar, masing-masing memuat lima lukisan tersendiri, yaitu: Lima Sukacita Maria, Lima Penumpahan Darah Kristus, dan Lima Sukacita Maria sesudah bangkitnya Yesus. Inilah kelima belas peristiwa Rosario yang dikenal sekarang, kecuali dua yang terakhir, yaitu tertidurnya Maria dan Penghakiman Terakhir. Dalam buku kecil itu ada nasihat berikut: ''Daraskanlah doa Salam Maria sambil memandang lukisan-lukisan ini!" Daftar tetap dari 15 peristiwa Rosario disusun di Spanyol sekitar tahun 1488. Daftar itulah yang disahkan oleh Paus Pius V, seorang biarawan Dominikan, ketika beliau menetapkan Rosario sebagai doa Gereja yang sah. Setahun sebelumnya, Pius mengesahkan teks doa Salam Maria yang sampai sekarang tidak diubah.
Ada sekian banyak peristiwa ajaib yang mendorong pimpinan tertinggi Gereja menghimbau bahkan mendesak umat berdoa Rosario untuk memohon perlindungan Bunda Maria atas Gereja dari segala rongrongan. Peristiwa terbesar yang melatarbelakangi penetapan tanggal 7 Oktober sebagai tanggal Pesta Santa Maria Ratu Rosario ialah peristiwa kemenangan pasukan Kristen dalam pertempuran melawan pasukan Islam Turki. Menghadapi pertempuran ini Paus Pius V menyerukan agar seluruh umat berdoa Rosario untuk memohon perlindungan Maria atas Gereja. Doa umat itu ternyata dikabulkan Tuhan. Pasukan Kristen dibawah pimpinan Don Johanes dari Austria berhasil memukul mundur pasukan Turki di Lepanto pada tanggal 7 Oktober 1571 (Minggu pertama bulan Oktober 1571). Sebagai tanda syukur Paus Pius V (1566-1572) menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai hari pesta Santa Maria Ratu Rosario. Kemudian Paus Klemens IX (1667-1669) mengukuhkan pesta ini bagi seluruh Gereja di dunia. Dan Paus Leo XIII (1878-1903) lebih meningkatkan nilai pesta ini dengan menetapkan seluruh bulan Oktober sebagai Bulan Rosario untuk menghormati Maria. Kemudian berdoa Rosario itu langsung diminta Bunda Maria sendiri agar didoakan umat pada peristiwa-peristiwa penampakannya di Lourdes, Prancis (1858), Fatima, Portugal (1917), di Beauraing, Belgia (1932-1933) dan di berbagai tempat lainnya akhir-akhir ini.


Sumber: Iman Katolik.com