Rabu, 23 September 2015

Perutusan Keduabelas Murid

Pw. S. Padre Pio dr Pietrelcina, Im. (P)
Ezr, 9:5-9
Mzm. 19:2-3,4-5
Luk. 9:1-6


Ezr, 9:5-9

9:5 Pada waktu korban petang bangkitlah aku dan berhenti menyiksa diriku, lalu aku berlutut dengan pakaianku dan jubahku yang koyak-koyak sambil menadahkan tanganku kepada TUHAN, Allahku,
9:6 dan kataku: "Ya Allahku, aku malu dan mendapat cela, sehingga tidak berani menengadahkan mukaku kepada-Mu, ya Allahku, karena dosa kami telah menumpuk mengatasi kepala kami dan kesalahan kami telah membubung ke langit.
9:7 Dari zaman nenek moyang kami sampai hari ini kesalahan kami besar, dan oleh karena dosa kami maka kami sekalian dengan raja-raja dan imam-imam kami diserahkan ke dalam tangan raja-raja negeri, ke dalam kuasa pedang, ke dalam penawanan dan penjarahan, dan penghinaan di depan umum, seperti yang terjadi sekarang ini.
9:8 Dan sekarang, baru saja kami alami kasih karunia dari pada TUHAN, Allah kami yang meninggalkan pada kami orang-orang yang terluput, dan memberi kami tempat menetap di tempat-Nya yang kudus, sehingga Allah kami membuat mata kami bercahaya dan memberi kami sedikit kelegaan di dalam perbudakan kami.
9:9 Karena sungguhpun kami menjadi budak, tetapi di dalam perbudakan itu kami tidak ditinggalkan Allah kami. Ia membuat kami disayangi oleh raja-raja negeri Persia, sehingga kami mendapat kelegaan untuk membangun rumah Allah kami dan menegakkan kembali reruntuhannya, dan diberi tembok pelindung di Yehuda dan di Yerusalem.

Luk. 9:1-6

9:1 Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit.
9:2 Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang,
9:3 kata-Nya kepada mereka: "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.
9:4 Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ.
9:5 Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka."
9:6 Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.


Perutusan Keduabelas Murid

Saudara terkasih, hari ini, Gereja menawarkan kepada kita untuk merenungkan mengenai panggilan dan perutusan para murid, dua belas murid. Mereka yang selama ini mengikuti dan mendengarkan, mendapat tugas untuk menjadi pata utusan. Utusan untuk mewartakan Kerajaan Surga dan menyembuhkan orang-orang. Mereka mendapatkan tenaga dan kuasa dari Yesus. Tenaga dan kuasa untuk menguasai setan dan menyembuhkan penyakit.
Perutusan itu membawa mereka untuk taat dan bergantung sepenuhnya pada Penyelenggaraan Ilahi, di mana mereka tidak boleh membawa bekal apapun. Sarana hidup dapat mereka peroleh dari kebaikan yang menerima mereka. Perintah yang diterima para murid di jalani dengan baik, dan mereka berkeliling dari desa ke desa dan memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.

Saudara terkasih, panggilan Tuhan mengandaikan menjalankan apa yang menjadi tugas perutusan dari yang mnegutus. Pribadi yang mencari nama diri, kemegahan diri, dan materi perlu dipertanyakan perutusannya. Syarat kedua ialah, mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Apapun penting namun tidak ada yang lebih penting dari apa yang Tuhan kehendaki. Tuhan adalah segalanya dan menjadi prioritas di atas segala sesuatu. Ilmu pengetahuan, ketrampilan, dan bekal apapun bentuknya adalah sarana untuk membantu. Tuhan sendiri yang menjadi fokus dan prioritas. BD.eLeSHa.

Selasa, 22 September 2015

Melakukan Firman

Selasa Biasa Pekan XXV (H)
Ezr. 6:7-8,12b,14-40
Mzm. 122:1-2,3-4a,4b-5
Luk. 8:19-21



Ezr. 6:7-8,12b,14-40

6:7 Biarkanlah pekerjaan membangun rumah Allah itu. Bupati dan para tua-tua orang Yahudi boleh membangun rumah Allah itu di tempatnya yang semula.
6:8 Lagipula telah dikeluarkan perintah olehku tentang apa yang harus kamu perbuat terhadap para tua-tua orang Yahudi mengenai pembangunan rumah Allah itu, yakni dari pada penghasilan kerajaan, dari pada upeti daerah seberang sungai Efrat, haruslah dengan seksama dan dengan tidak bertangguh diberi biaya kepada orang-orang itu.
6:12b. Aku, Darius, yang mengeluarkan perintah ini. Hendaklah itu dilakukan dengan seksama."
6:14 Para tua-tua orang Yahudi melanjutkan pembangunan itu dengan lancar digerakkan oleh nubuat nabi Hagai dan nabi Zakharia bin Ido. Mereka menyelesaikan pembangunan menurut perintah Allah Israel dan menurut perintah Koresh, Darius dan Artahsasta, raja-raja negeri Persia.
6:15 Maka selesailah rumah itu pada hari yang ketiga bulan Adar, yakni pada tahun yang keenam zaman pemerintahan raja Darius.
6:16 Maka orang Israel, para imam, orang-orang Lewi dan orang-orang lain yang pulang dari pembuangan, merayakan pentahbisan rumah Allah ini dengan sukaria.
6:17 Untuk pentahbisan rumah Allah ini mereka mempersembahkan lembu jantan seratus ekor, domba jantan dua ratus ekor dan anak domba empat ratus ekor; juga kambing jantan sebagai korban penghapus dosa bagi seluruh orang Israel dua belas ekor, menurut bilangan suku Israel.
6:18 Mereka juga menempatkan para imam pada golongan-golongannya dan orang-orang Lewi pada rombongan-rombongannya untuk melakukan ibadah kepada Allah yang diam di Yerusalem, sesuai dengan yang ada tertulis dalam kitab Musa.
6:19 Dan pada tanggal empat belas bulan pertama mereka yang pulang dari pembuangan merayakan Paskah.
6:20 Karena para imam dan orang-orang Lewi bersama-sama mentahirkan diri, sehingga tahirlah mereka sekalian. Demikianlah mereka menyembelih anak domba Paskah bagi semua orang yang pulang dari pembuangan, dan bagi saudara-saudara mereka, yakni para imam, dan bagi dirinya sendiri.


Luk. 8:19-21

8:19 Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak.
8:20 Orang memberitahukan kepada-Nya: "Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau."
8:21 Tetapi Ia menjawab mereka: "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya."



Melakukan Firman

Saudara terkasih, dalam perikopa pendek ini hendak mengajak kita untuk merenungkan siapakah keluarga Tuhan itu. Keluarga secara biologis dan sekaligus keluarga spiritual. Yesus menunjuk bahwa siapa yang mendengarkan dan melaksanakan sabda atau firman-Nya adalah keluarga, yaitu ibu dan saudara-saudara-Nya. Meskipun demikian, bukan pula melepaskan bahwa Maria dan saudara-Nya yang datang adalah ibu dan saudara dalam arti biologis.
Saudara terkasih, dengan sabda ini, Tuhan Yesus hendak mengajak kita, bahwa kita sebagai anak-anak dan saudara biologis, tetap keluarga secara sosiologis kemasyarakatan, namun secara spiritual satu keluarga di dalam Yesus. Pemisahan antara yang rohani dan biologis bukan menjadi prioritas dan penghalang di dalam mengasihi Tuhan dan sesama.

Mendengarkan sabda atau firman saja belum cukup bagi Tuhan, namun melaksanakan. Apa arti melaksanakan? Melakukan apa yang dikehendaki Tuhan Allah bagi hidup kita. Melakukan kewajiban kita secara baik, maksimal, dan penuh sukacita. Baik yang spiritual seperti ibadat, merenungkan Kitab Suci, dan kegiatan yang berkaitan dengan Tuhan dan sesama secara seimbang dan selaras. Jangan hanya demi duniawi melupakan Tuhan, dan mengabdi Tuhan namun menelantarkan keluarga. Keseimbangan dan melakukan merupakan hal yang penting. Melakukan firman Tuhan sebagaimana Tuhan kehendaki bukan karena keuntungan dan rencana kita yang dipas-paskan dengan keinginan kita sendiri. BD.eLeSHa.

Senin, 21 September 2015

Panggilan Matius

Pesta S. Matius, RasPenInj (M)
Ef. 4:1-7,11-13
Mzm. 19:2-3,4-5
Mat. 9:9-13



Ef. 4:1-7,11-13

4:1 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.
4:2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.
4:3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:
4:4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,
4:5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,
4:6 satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.
4:7 Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.
4:11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,
4:12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,
4:13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus


Mat. 9:9-13

9:9 Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.
9:10 Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.
9:11 Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"
9:12 Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.
9:13 Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."


Panggilan Matius

Saudara terkasih, panggilan Tuhan itu totalitas. Total yang tanpa batas, dan kesiapsediaan. Langsung tanpa perlu menimbang-nimbang, namun juga bagi semua orang. Tidak mengenal batasan apakah orang baik atau buruk dalam pandangan manusia.
Hari ini Gereja mengajak kita merenungkan bagaimana Tuhan juga memandang pemungut cukai yang dinilai sebagai pendosa. Pekerjaan pemungut cukai dinilai buruk karena selain bekerja bagi pemerintahan penjajah, namun kadang mereka juga mencari untungnya sendiri dengan mengutip lebih banyak daripada yang seharusnya.
Yesus juga makan dengan mereka, dalam hal ini juga merupakan hal yang tabu atau buruk dalam tradisi Yahudi. Tidak heran ada pertanyaan mengapa Guru, Yesus dianggap sebagai Guru saat itu, makan dengan pendosa. Pertanyaan itu tidak dijawab dengan langsung, namun dengan menggunakan perumpamaan. Bagaimana tabib datang untuk orang sakit, bukan orang sehat.

Saudara terkasih, bagaimana Yesus itu datang untuk menyelamatkan yang sehat bukan yang telah menemukan jalan. Pribadi yang telah menemukan jalan tentu akan Ia bimbing dan dampingi, namun yang sesatlah yang mendapatkan perhatian lebih agar tidak makin tersesat. Sering orang tidak mau kenal dengan orang yang bersalah dan sedang tertimpa masalah, kesalahan adalah tindakan yang lepas dari pribadi dan kepribadiaan seseorang, dan itulah yang dilakukan oleh Yesus. Kualitas Yesus tidak terpengaruh oleh kedosaan manusia di sekitarnya, dan justru membantu agar manusia mampu untuk keluar dari kungkungan dosa tersebut. BD.eLeSHa.

Minggu, 20 September 2015

Yang Terbesar

HARI MINGGU BIASA KE XXV (H)
Keb. 2:12,17-20
Mzm. 54:3-4,5,6,8
Yak. 3:16-4:3
Mrk. 9:30-37



Keb. 2:12,17-20

2:12 Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita
2:17 Coba kita lihat apakah perkataannya benar dan ujilah apa yang terjadi waktu ia berpulang.
2:18 Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya.
2:19 Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya.
2:20 Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan."

Yak. 3:16-4:3

3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.
3:18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.
4:1 Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?
4:2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.
4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.


Mrk. 9:30-37


9:30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;
9:31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit."
9:32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.
9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?"
9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.
9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."
9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:
9:37 "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.


Yang Terbesar

Saudara terkasih, Yesus mengajarkan mengenai yang terbesar diawali dengan derita-Nya. Pembicaraan akan derita, penolakan, dan penyerahan. Sayang bahwa para murid tidak tahu dan paham akan maksud Yesus. Maka mereka mendapatkan penjelasan. Kali ini penjelasan yang berbeda di mana Yesus yang memulai pembicaraan bukan karena pertanyaan dari orang atau pendengarnya.
Sikap murid yang tidak paham ini, malah diperparah dengan perbincangan dan perebutan siapa yang paling besar di antara mereka. Yesus membawa anak kecil dan menyatakan bahwa siapa yang bisa seperti anak kecil inilah yang layak menjadi yang terbesar. Ambisius dan sikap ingin berkuasa dikonfrontir dengan sikap anak-anak yang tulus dan tidak kenal akan kuasa.
Saudara terkasih, haus kekuasaan, pengakuan, menjadi yang ter, sering mengacaukan keadaaan. Orang yang telah dikuasai keadaan demikian bisa menjadi lupa daratan dan terjadi perkelahian karena adanya iri hati dan dengki yang datang. Sikap anak-anak yang apa adanya merupakan kualitas bagi pribadi dewasa yang bisa melepaskan ambisi pribadinya. BD.eLeSHa.






Sabtu, 19 September 2015

Perumpamaan tentang Penabur

Sabtu Biasa Pekan XXIV (H)
1 Tim. 6:13-16
Mzm. 100:2,3,4,5
Luk. 8:4-15


1 Tim. 6:13-16

6:13 Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu:
6:14 Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya,
6:15 yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.
6:16 Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.

Luk. 8:4-15

8:4 Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan:
8:5 "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.
8:6 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.
8:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati.
8:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"
8:9 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu.
8:10 Lalu Ia menjawab: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.
8:11 Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah.
8:12 Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.
8:13 Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.
8:14 Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.
8:15 Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.



Perumpamaan tentang Penabur

Saudara terkasih, perumpamaan mengandaikan adanya kreatifitas dan interpretasi akan makna dari perumpamaan yang disampaikan. Hal ini berkaitan pula dengan apakah yang dimaksudkan oleh pendengar sama dengan pembicara. Apa yang menjadi kebingungan para murid kelihatannya juga pada taraf ini, apa yang dimaksud Yesus apakah sama dengan apa yang mereka pahami.
Perumpamaan agraris ini dipakai Yesus sesuai konteks saat itu, di mana para pendengar adalah hidup dari pertanian, yang tahu dengan persis mengenai menabur. Benih yang ditaburkan itu jatuh di berbagai tempat dan tanah yang berbeda-beda. Ada yang tidak tumbuh karena diinjak-injak, ada yang jatuh di tempat berbatu sehingga tumbuh sebentar, dan ada pula yang jatuh di tempat yang subur dan tumbuh serta hidup dengan baik.
Benih yang dimaksud Lukas, ialah Sabda Allah, yang ditaburkan oleh Allah sendiri. Ayat 15 dengan jelas dan tegas bagaimana maksug perumpamaan ini, yaitu, tanah yang baik ialah orang yang mendengar Sabda Tuhan dan menyimpannya dalam hati yang baik dan menghasilkan buah dalam ketekunan. Mendengar saja tidak cukup, menyimpannya saja belumlah cukup. Tuhan menghendaki, mendengarkan, menyimpan dalam hati yang baik dan menghasilkan buah. Menghasilkan buah bukan hanya menyimpannya. Buah dalam ketekunan, lihat bahwa Tuhan menghendaki kita bertekun agar Sabda itu tidak mati karena adanya himpitan sebagaimana jatuh di tanah yang berbatu.

Saudara terkasih, kita sering mendengarkan sabda Tuhan, menyimpannya dengan baik, namun untuk menghasilkan sering kita tidak mampu  karena kita mengikuti kata hati kita, mengikuti alur dunia yang sering tidak sama dengan jalan Tuhan. Kalau demikian, janganlah takut dan mintalah pada Tuhan kekuatan dan bimbingan agar memiliki hati yang bisa menyimpan Sabda-Nya untuk mengasilkan buah yang berlimpah.

Jumat, 18 September 2015

Perempuan-Perempuan yang Melayani-Nya

Jumat Biasa Pekan XXIV (H)
1 Tim. 6:3-12
Mzm. 49:6-7,8-9,17-18, 20
Luk. 8:1-3


1 Tim. 6:3-12

6:3 Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat -- yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus -- dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita,
6:4 ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga,
6:5 percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.
6:6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
6:7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
6:8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.
6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.
6:12 Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.

Luk. 8:1-3

8:1 Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia,
8:2 dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat,
8:3 Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.



Perempuan-Perempuan yang Melayani-Nya

Saudara terkasih, Lukas sering menyajikan ilustrasi peran perempuan. Perempuan-perempuan yang disebut Lukas termasuk paling banyak. Elizabeth, Maria, Hanna, mrtua Petrus, janda Nain, perempuan pendosa, yang melayani-Nya bacaan hari ini, perempuan yang pendarahan, Marta dan Maria, perempuan bungkuk, dan yang lainnya.
Budaya Yahudi, kurang memberi tempat bagi perempuan, ingat beberapa kali dinyatakan, anak-anak dan  perempuan tidak terhitung. Perutusan dan panggilan Yesus untuk semua orang makin tergenapi, selain pendosa dan pemungut cukai, yang kena kusta, kali ini para perempuan, bahkan melayani-Nya.
Perempuan kali ini pun istimewa karena disebutkan sebagai perempuan yang telah disembuhkan dari penyakit dan menerima pengampunan dosanya. Kuasa Tuhan yang menggerakkan mereka untuk ikut serta Tuhan. Keterbukaan para perempuan juga hendak ditampilkan secara khusus. Bagaimana mereka lebih memiliki kepekaan dalam melihat dan merasakan panggilan dan kasih Tuhan. Penolakan yang digambarkan oleh ahli Taurat, jelas laki-laki, kali ini  perempuan yang menerima Yesus. Mereka menggunakan harta kekayaan mereka untuk melayani Yesus dan pelayanan-Nya. Pengorbanan yang menjawab atas kasih Tuhan yang demikian besar.

Saudara terkasih, kasih Yesus yang tidak terbatas bagi semua orang. Pendosa ataupun bukan, laki-laki dan perempuan, orang yang tersingkir Ia rangkul. Kita memiliki peran yang sama di dalam kehidupan kita yang meneladan cara dan panggilan kasih-Nya yang tidak  terbatas dan terkotak-kotak itu. BD.eLeSHa.

Kamis, 17 September 2015

Pengurapan Perempuan Berdosa

Kamis Biasa Pekan XXIV (H)
1 Tim. 4:12-16
Mzm. 111:7-8,9,10
Luk. 7:36-50


1 Tim. 4:12-16

4:12 Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.
4:13 Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.
4:14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.
4:15 Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.
4:16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.


Luk. 7:36-50

7:36 Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.
7:37 Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.
7:38 Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.
7:39 Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa."
7:40 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru."
7:41 "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.
7:42 Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?"
7:43 Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu."
7:44 Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.
7:45 Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku.
7:46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.
7:47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."
7:48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni."
7:49 Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?"
7:50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"



Pengurapan Perempuan Berdosa

Saudara terkasih, kisah ini, khas Lukas yang sangat menarik. Setelah beberapa saat berbicara penolakan, kali ini justru penerimaan. Penerimaan oleh perempuan yang terkenal sebagai pendosa. Cakrawala baru, di mana seorang Guru mau makan dan dibasuh oleh pendosa.
Keterbukaaan, Yesus datang untuk menyelamatkan pendosa sebagaimana tabib datang untuk menyembuhkan orang sakit. Bukti nyata Ia pertontonkan ketika menerima pendosa, salah satunya perempuan ini. Tidak heran orang banyak, termasuk tuan rumah dan orag Farisi, heran dan berpikirm apakah DIA tidak tahu.
Diam itu emas. Perempuan itu melakukan apa yang hendak ia sampaikan dalam diam dan itu berkenan di hadapan Tuhan. Diam itu emas dan melakukan tentu merupakan bukti, belas kasih yang tidak terhingga.
Pandangan baru. Kepercayaan pendosa menjamah orang lain, bisa ikut tidak suci, paham yang hendak dirombak oleh Yesus. Yesus sebagai Pribadi Yang Suci tidak terpengaruh oleh kedosaan manusia di sekeliling-Nya. Kualitas-Nya tetap selamanya.
Kuasa mengampuni dosa. Kontroversi yang ada, namun Yesus tetap dalam perutusan-Nya. Iman membuahkan pengampunan dan keselamatan, ketia Ia hadir dan menerima kembali kita dari kedosaan kita.
Saudara terkasih, pengurapan perempuan berdosa memberikan kepada kita banyak pelajaran berharga. Diam belum tentu buruk, dan kasih itu perlu tindak nyata. Iman sebagai sarana mendapatkan keselamatan dan kasih karunia Allah. Kedosaan orang lain atau pihak lain tidak mempengaruhi kualitas seseorang kecuali pelakunya sendiri. Bagaimana pilihan kita dalam hidup sehari-hari? BD.eLeSHa.


Rabu, 16 September 2015

Hikmat dan Penolakan

Pw. S. Kornelius, Paus dan S. Siprianus, UskMrt (M)
1 Tim. 3:14-16
Mzm. 111:1-2,3-4,5-6
Luk. 7:31-35


1 Tim. 3:14-16

3:14 Semuanya itu kutuliskan kepadamu, walaupun kuharap segera dapat mengunjungi engkau.
3:15 Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.
3:16 Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: "Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan."

Luk. 7:31-35

7:31 Kata Yesus: "Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama?
7:32 Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.
7:33 Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan.
7:34 Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.
7:35 Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya."


Hikmat dan Penolakan

Saudara terkasih, hari ini Gereja mengajak kita merenungkan sabda-Nya yang berkaitan dengan hikmat dan penolakan. Penolakan bisa berupa abai, acuh tak acuh, seenaknya sendiri, dan ada pula yang dengan frontal menyatakan penolakan dan bahkan permusuhan. Kali ini Yesus mengumpamakan umat waktu itu yang tidak mengikuti Yohanes maupun Yesus seperti permainan anak-anak yang meniup seruling tetapi tidak ada yang menari, demikian pun ketika ada kidung duka tidak ada yang menangis. Apapun bentuknya tidak direspons atau ditanggapi dengan semestinya.
Yohanes Pembaptis dikatakan kerasukan setan karena mati raganya yang keras. Yesus yang makan dan minum dinilai sebagai pelahap. Orang yang tidak mau tahu dan abai akan sapaan Allah yang hadir dengan berbagai cara.
Hari-hari ini, masa ini hal tersebut juga terjadi, kata-kata suci disitir demi kepentingan sendiri dan kelompoknya. Kebenaran bisa diatur seperti kepentingannya, asal untung dan selamat. Materi dan kuasa sebagai pedoman sekaligus tujuan, sehingga cara tidak lagi dipedulikan. Seruan kenabian bisa berujung pada pengucilan kalau tidak pembalasan yang jauh lebih kejam.

Saudara, hikmat menjadi penting, sehingga kita bisa melihat apa rencana Tuhan di tengah keadaan dunia yang kacau dan seenaknya sendiri. Yesus menyampaikan hal itu hampir 2000 tahun lalu, namun tetap kontekstual dengan kekinian. Bagaimana sikap kita, mau berhikmat atau acuh tak acuh? BD.eLeSHa.

Selasa, 15 September 2015

Peran Maria

Pw. SP. Maria Berdukacita (P)
1 Kor. 12:31-13:13
Mzm. 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16,20
Luk. 2:33-35


1 Kor. 12:31-13:13

12:31 Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi
13:1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
13:2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
13:3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.
13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
13:9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
13:10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.
13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
13:12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.



Luk. 2:33-35

2:33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
2:35 -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."



Peran Maria

Saudara terkasih, peran Ibu Maria sangat penting bagi karya Yesus. Dimulai dengan keberaniannya mengatakan ,”aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Sikap siap sedia yang demikian besar, hingga berakhir ketika Yesus menyatakan dan menyerahkannya kepada murid-murid-Nya (Yoh. 19:27). Akhir dengan duka cita dan kepedihan, bagaimana Marai memegang peran itu tanpa henti, meskipun duka mendalam. Duka itu tidak hanya sekali, namun berkali-kali, bagaiamana ketika mereka menyerahkan ke dalam Bait Allah sebagai anak sulung laki-laki, Simeon mengatakan bahwa akan ada pedang yang menembus jiwamu. Pernyataan yang luar biasa kerasnya bagi hati seorang ibu.
Mengikuti Yesus bukan hanya ketika enak dan senang saja, berkali-kali Maria sebagai ibu tentu sedih, ditolak ketika Ia diajak pulang dari Bait Allah, juga ketika mereka mencari dan hendak bertemu. Pemahaman dan pengenalan akan Pribadi Yesus, sangat penting bagi kita, karena itu menentukan bagaimana relasi kita dengan DIA.
Sikap Maria yang selalu menyimpan dalam hati, melakukan apa yang menjadi rencana-Nya, bukan keinginan hatinya sendiri, merupakan sikap iman yang mendalam dan kuat. Tidak memaksakan keinginan dan kerinduan pribadi, namun apa yang menjadi kehendak Yesus dan Tuhan Allah tentunya. Duka yang membahagiakan bagi Maria, ketika ia sanggup dan berani menyatakan siap untuk menjadi rekan Allah dalam karya keselamatan.

Hati-hati penghormatan kepada Maria, jangan sampai menjauhkan kita kepada Allah, sering pilihan dan perbuatan kita karena keterbatasan kita malah tidak tepat. Bukan salah namun tidak tepat. BD.eLeSHa.

Senin, 14 September 2015

Anak Manusia

Pesta Salib Suci (M)
Bil. 21:4-9
Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38
Flp. 2:6-11
Yoh. 3:13-17


Bil. 21:4-9

21:4 Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan.
21:5 Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak."
21:6 Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati.
21:7 Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: "Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami." Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu.
21:8 Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup."
21:9 Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup


Flp. 2:6-11

2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
2:11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Yoh. 3:13-17

3:13 Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
3:14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
3:15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.
3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.



Anak Manusia


Saudara terkasih, berbicara salib tentu berbicara Yesus. Bagaimana akhir hidup Yesus di dunia melalui salib. Yesus sebagai Anak Allah yang ditugaskan untuk menyelamatkan anak-anak Allah yang tersesat. Penyelamatan itu berkaitan dengan kepercayaan kepada Yesus. Kehadiran-Nya untuk menyelamatkan bukan untuk mengadili.
Penyelamatan digambarkan sebagai peninggian, sebagaimana kepercayaan Perjanjian Lama, di mana ular tembaga sebagai penyelamat dari umat yang dipatuk ular, kali ini Anak Manusia yang ditinggikan melalui salib.
Keselamatan itu karya Bapa, di mana Ia mengutus Anak-Nya Yang Tunggal, yaitu Yesus Kristus. Kedatangan-Nya bukan menghakimi namun menyelamatkan. Kasih-Nya yang menopang bukan untuk menjatuhkan. Saudara terkasih, Tuhan kita itu Tuhan yang penuh kasih, memiliki cinta yang tidak pernah padam, bagaimana keselamatan sebagai anugerah-Nya yang membawa kita lepas dari maut. Kemarahan-Nya pasti memberikan bantuan agar tidak terpisah dari-Nya terus menerus. Pemulih itu ada dalam Diri Putera-Nya. BD.eLeSHa.

Minggu, 13 September 2015

Iman Tanpa Perbuatan adalah Mati

HARI MINGGU BIASA PEKAN XXIV (H)
Yes. 5:5-9a
Mzm. 116:1-2,3-4,5-6,8-9
Yak. 2:14-18
Mrk. 8:27-35


Yes. 5:5-9a

50:5 Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.
50:6 Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.
50:7 Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.
50:8 Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku beperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku!
50:9 Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah?


Yak. 2:14-18

2:14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?
2:15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,
2:16 dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?
2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.


Mrk. 8:27-35

8:27 Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Kata orang, siapakah Aku ini?"
8:28 Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi."
8:29 Ia bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!"
8:30 Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.
8:31 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
8:32 Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.
8:33 Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
8:34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
8:35 Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya


Iman Tanpa Perbuatan adalah Mati

Saudara terkasih, Yakobus mengatakan kepada kita bahwa iman itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Tindakan itu berupa apa? ddalam berbagai-bagai cara dapat kita menunjukkan iman kita. Kehidupan sehari-hari adalah medan di mana kita bisa memberikan kesaksian kepada dunia.
Tuhan mengatakan kalau mau mengikuti-Nya kita perlu untuk menyangkal diri dan memanggul salib. Salib yang bisa kita temui dalam hidup ini bermacam-macam bentuknya. Bisa berupa terkucil karena tidak mau terlibat dalam kejahatan. Tersingkir karena mengimani Tuhan Yesus. Mendapatkan berbagai-bagai kesulitan dalam menghayati iman kepada-Nya. Jatuh bangun untuk mengenal dan mencari kehendak-Nya.
Saudara terkasih, Petrus saja salah memahami pengajaran dan jalan Tuhan dalam karya-Nya, kalau kita salah dan mau kembali tentu tidak ada yang salah. Keberanian mengakui kesalahan merupakan hal yang menunjukkan kualitas kita.

Iman kita perlu ditunjukkan apapun konsekuensinya. Tidak perlu takut untuk mengakui sebagai pengikut Tuhan, bukan untuk menyombongkan diri dan memaksakan iman kepada orang lain, namun sebagai wujud syukur atas pilihan dan panggilan Tuhan yang istimewa itu.BD.eLeSHa.