Sabtu, 12 September 2015

Pohon Dikenal dari Buahnya

Sabtu Biasa Pekan XXIII (H)
1 Tim. 1:15-17
Mzm. 113:1-2,-4,5a,6,7
Luk. 6:43-49


1 Tim. 1:15-17

1:15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.
1:16 Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.
1:17 Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.


Luk. 6:43-49

6:43 "Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.
6:44 Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.
6:45 Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya."
6:46 "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?
6:47 Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya -- Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan --,
6:48 ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.
6:49 Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya."



Pohon Dikenal dari Buahnya

Saudara terkasih, hari ini Yesus mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kita ini mengungkapkan kepribadian kita dengan perilaku dan kata-kata kita. Yesus memberikan renungan dengan mengatakan buah itu menunjukkan pohonya. Tidak mungkin pohon semak  akan menghasilkan buah anggur manis.
Kita hari-hari ini disuguhi dengan aneka hujatan dan cacian, oleh pelaku kecurangan, mengapa bisa demikian? itu menunjukkan hati yang terdalam dari mereka yang memiliki hati yang memang kotor, sehingga tidak bisa mengatakan maaf aku telah melakukan keburukan. Keburukan itu dikemas dengan segala cara seolah-olah orang lain tidak akan tahu namun tetap saja keluar apa yang ada di dalam hati sana. Kesejatian yang tidak akan bisa disembunyikan.
Yesus mengajak kita untuk menilik hati kita sendiri, bagaimana buah yang kita hasilkan itu, apakah baik atau buruk, menguntungkan atau merugikan, membantu atau menghambat, baik untuk diri kita ataupun orang lain. Kualitas kita bisa kita ketahui dari pilihan-pilihan kita dalam hidup sehari-hari.
Saudara terkasih, Yesus mengajak kita pula untuk tidak hanya puas menjadi pendengar sabda-Nya, namun juga melakukannya. Melakukan sebagai buti konkret bahwa kita telah mengerti dengan baik apa yang telah IA sabdakan. Ketaatan untuk datang, mendengar, dan melakukan. Melakukan menjadi penting agar kita bisa menjadi saluran rahmat bagi sesama kita. Kita menjadi saluran bukan malah menghentikan rahmat untuk diri kita sendiri. BD.eLeSHa.


Jumat, 11 September 2015

Kebijaksanaan

Jumat Biasa Pekan XXIII (H)
1 Tim. 1:1-2,12-14
Mzm. 16:1,2a,5,7-8,11
Luk. 6:39-42


1 Tim. 1:1-2,12-14

1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita,
1:2 kepada Timotius, anakku yang sah di dalam iman: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.
1:12 Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku --
1:13 aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.
1:14 Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

Luk. 6:39-42

6:39 Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?
6:40 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.
6:41 Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
6:42 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."



Kebijaksanaan

Saudara terkasih, kita bisa belajar mengenai kebijaksaan dalam bacaan kita hari ini. Pertama kebijaksaan yang mengajarkan bagaimana tidak efektifnya orang buta yang dituntun oleh sesama oran buta. Kedua, kebijaksanaan seorang murid yang akan sama dengan gurunya kalau telah menyelesaikan belajarnya. Ketiga mengenai ajakan untuk mengadakan evaluasi ke dalam diri sendiri sebelum mengadakan evaluasi bagi orang lain.
Apa yang kita saksikan hari-hari ini, baaan ini benar-benar tepat dan kontekstual. Bagaimana banyak orang selalu mengajari orang sedang dia sendiri sama sekali tidak bisa. Mengevaluasi, mengkritik, bahkan akhirnya menghujat sedangkan diri mereka tidak melakukan apapun. Orang yang tidak mau belajar namun selalu menunt orang lain berbuat lebih. Hal ini bukan hanya di negara namun juga dalam kehidupan menggereja. Panggilan biar anak orang lain saja, biar aku bantu dengan doa atau materi. Petugas, dipilih tidak mau namun kalau ada kekurangan akan mencelanya dengan berlebih-lebihan.

Saudara terkasih, kita memang hidup di dalam dunia yang demikian. kita tidak bisa menghindarinya, namun bisa menyelaminya dan tidak ikut terlibat arus di sana. Pilihan Tuhan atas diri kita tentu Tuhan pula yang akan memberikan kekuatan sehingga kita tidak akan jatuh dalam arus dunia tersebut. Tiga catatan kebijaksanaan yang perlu kita geluti agar makin memiliki hati yang penuh kasih dan peduli pada sesama. BD.eLeSHa.

Kamis, 10 September 2015

Kasih Tanpa Pamrih

Kamis Biasa Pekan XXIII (H)
Kol. 3:12-17
Mzm. 150:1-2,3-4,5-6
Luk. 6:27-38


Kol. 3:12-17

3:12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.
3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.
3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Luk. 6:27-38

6:27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;
6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
6:29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
6:30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
6:32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.
6:33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.
6:34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
6:35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
6:37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.
6:38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."



Kasih Tanpa Pamrih

Saudara terkasih, hari ini gereja mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kebaikan dan kasih itu seharusnya kita lakukan. Pertama, umumnya atau biasanya orang memiliki kasih atau kebaiakan kepada orang yang berlaku baik dan mengasihi kita, sebaliknya ketika orang itu memusuhi kita, kita akan menarik diri dan juga menjaga jarak dan kemudian berbuat buruk juga. Yesus menghendaki berbeda. Mengasihi bahkan orang yang berbuat buruk kepada kita. Kedua, tidak menghendaki balasan. Orang sering berpamrih bahkan juga kepada Tuhan, menggugat pernah berbuat kalau tidak mendapatkan balasan setimpal, protes kepaa Tuhan pun tidak jarang dilakukan. Ketiga, tanpa bunga, meminjamkan biasanya kita berfikir adanya bunga. Demikianpun berkaitan dengan Tuhan, ketika kita memberikan sesuatu baik bagi gereja aksi sosial, atau apapun berpikir nanti akan mendapatkan jauh lebih besar dari Tuhan.Tuhan justru kebalikannya dari itu, di mana Tuhan menghendaki kita memberikan lebih dari orang yang membutuhkannya.


Mengapa Tuhan seolah menuntut hal yang begitu besar? Sama sekali tidak karena Tuhan telah melakukan terlebih dahulu. Ia memberikan teladan dengan perbuatan bukan hanya meminta atau menuntut saja. Ia yang menguatkan dalam ketidakmampuan kita. BD.eLeSHa.

Rabu, 09 September 2015

Seruan Kasih

Rabu Biasa Pekan XXIII (H)
Kol. 3:1-11
Mzm. 145:2-310-1112-13ab
Luk. 6:20-26


Kol. 3:1-11

3:1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
3:2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
3:3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.
3:4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.
3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,
3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka].
3:7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.
3:8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.
3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,
3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;
3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.


Luk. 6:20-26

6:27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;
6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
6:29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
6:30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
6:32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.
6:33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.
6:34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
6:35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
6:37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.
6:38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."


Seruan Kasih

Seruan kasih radikal, sebagaimana Bapa juga melakukannya, yaitu mengasihi musuh, berbuat baik kepada yang membenci, memberkati yang mengutuk, dan berdoa bagi yang mencaci. Menarik karena dunia diwarnai oleh kebalikan dari keempatnya. Lebih banyak berteriak sama keras atau lebih keras. Kutuk dan dendam membara disiram oleh kehadiran Yesus yang membawa kesejukan.
Yesus bukan hanya mengatakan apa yang perlu dilakukan namun juga dengan memberikan contoh bagaimana dan apa yang harus dilakukan. Tanpa pamrih.
Yesus juga mengajak kita untuk menyadari apa yang kita inginkan orang lain kepada kita, perlu pula kita melakukan bagi yang lain terlebih dahulu. Tidak semata perlakuan adil namun perlu melihat pula memberikan perhatian kepada kebutuhan sesama.
Kasih para murid harus lebih dan tentu berbeda dengan orang kebanyakan. Bagaimana sikap kita tidak boleh hanya sama dengan orang kebanyakan. Kalau demikian apa bedanya dan kualitasnya?

Saudara terkasih, mengikuti Yesus berkaitan dengan kualitas, dalam hal ini adalah kualitas kasih yang diberikan dan diwujudkan bagi sesama dan juga kepada Tuhan. Mengasihi bahkan kepada musuh, jelas menunjukkan perbedaan yang signifikan, kebanyakan adalah pembalasan setimpal kadnag berlebih. Dendam, saling hujat dan kutuk, merupakan ladang kasih Tuhan untuk menghentikannya dengan bersikap sebaliknya. Bagaimana perlu memberkati siapa yang mengutuk dan mengampuni. Sikap yang tidak mudah kalau berjalan sendirian. Allah telah melakukannya dan kita akan dimampukannya. BD.eLeSHa.

Selasa, 08 September 2015

Maria dan Yesus

Pesta Kelahiran SP Maria (P)
Rm. 8:18-23
Mzm. 13:6ab,6cd
Mat. 1:18-23


Rm. 8:18-23

8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
8:29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
8:30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Mat. 1:18-23

1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."
1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
1:23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.


Maria dan Yesus

Saudara terkasih, kita sebagai umat Gereja Katolik sering lebih dekat dan akrab berkaitan dengan devosional kepada Ibu Maria. Ekaristi pun masih  ada yang asyik dengan rosarionya. Tempat ziarah akan penuh dibandingkan dengan perayaan Ekaristi. Tidak ada yang salah dengan kebiasaan dan olah kesalehan ini, namun kita perlu tahu bahwa Maria tidak bisa dan tidak boleh menggantikan Yesus.
Maria itu perantara kepada Yesus. Dasar iman kepercayaan Katolik ada yang bernama tradisi, di mana dalam Kitab Suci tidak ada, namun diyakini sejak awal Gereja dan diyakini kebenarannya. Seperti kelahiran Maria ini tentu saja seara historis ada, meskipun dalam Kitab Suci tidak melaporkannya. Mengapa Gereja memperingatinya? Sosok penting Maria dalam karya keselamatan. Yesus tidak akan lahir ke dunia tanpa peran kandungan Maria. Maria menjadi kudus karena Yesus yang bersemayam di kandungannya.

Saudara terkasih, penghormatan kita kepada Maria tidak kalah pentingnya dengan penghormatan kita kepada Allah Bapa dan Putera, namun jangan sampai justru lebih mengedepankan Maria. Tentu kita paham bahwa berbicara dan meminta bantuan kepada ibu atau sosok perempuan lebih nyaman dan lebih terbuka, pengalaman manusiawi tersebut terbawa dalam kehidupan spiritual.BD.eLeSHa.

Senin, 07 September 2015

Menyelamatkan atau Membinasakan?

Senin Biasa (H), Pekan XXIII
Kol. 1:24-2:3
Mzm. 62:6-7,9
Luk. 6:6-11


Kol. 1:24-2:3

1:24 Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.
1:25 Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu,
1:26 yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya.
1:27 Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!
1:28 Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.
1:29 Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.
2:1 Karena aku mau, supaya kamu tahu, betapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk kamu, dan untuk mereka yang di Laodikia dan untuk semuanya, yang belum mengenal aku pribadi,
2:2 supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus,
2:3 sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.


Luk. 6:6-11

6:6 Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.
6:7 Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia.
6:8 Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" Maka bangunlah orang itu dan berdiri.
6:9 Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?"
6:10 Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya.
6:11 Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus


Menyelamatkan atau Membinasakan?

Saudara terkasih, kita diajak oleh Yuhan untuk merenungkan apa yang menjadi prioritas, mendesak dan penting serta hanya masalah sepele dan biasa. Yesus telah diamat-amati untuk melihat apa yang akan dilakukan,yaitu alasan untuk menhentikan fenomena Yesus yang makin menguat di tengah mereka. Mereka tahu dengan persis apa yang akan Yesus lakukan karena ada orang lumpuh. Saat yang tepat untuk menjatuhkan “musuh” duri mereka.
Pilihan Yesus konsisten untuk tetap melakukan apa yang harus Ia lakukan. Ia akan menyembuhkan dengan bertanya terlebih dahulu, bagaimana mereka akan bereaksi yang telah IA ketahui. Penolakan atau hujatan. Menyelamatkan atau membinasakan yang kebih baik di hari Sabat. Jelas saja mereka tidak akan bisa menjawab karena ingin menjebak Yesus, justru mereka yang terdesak oleh kepercayaan mereka.
Yesus melakukan apa yang memang harus dilakukan bukan untuk mencari nama. Tetap saja Ia sembuhkan orang lumpuh tersebut. Menjalankan kehendak Tuhan dan menyelamatkan jiwa lebih IA pilih.

Sauadara terkasih, terkadang kita takut untuk menyatakan iman kepercayaan kita, apalagi menyuarakan kebenaran, ketika apa yang kita yakini benar itu tidak didukung oleh mayoritas lingkungan kita. Mencari aman demi apapun, pekerjaan, posisi, jabatan, atau apapun itu. Tuhan mengajarkan kepada kita untuk berani mengedepankan kebenaran dan keselamatan di atas segalanya. BD.eLeSHa.

Minggu, 06 September 2015

Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.

HARI MINGGU BIASA XXIII (H)
Yes. 35:4-7
Mzm. 146:7,8-9a, 9bc-10
Yak. 2:1-5
Mrk. 7:31-37


Yes. 35:4-7

35:4 Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: "Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!"
35:5 Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka.
35:6 Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara;
35:7 tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan


Yak. 2:1-5

2:1 Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.
2:2 Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk,
2:3 dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!",
2:4 bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?
2:5 Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?


Mrk. 7:31-37

7:31 Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis.
7:32 Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.
7:33 Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.
7:34 Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah!
7:35 Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.
7:36 Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.
7:37 Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.



Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.

Saudara terkasih, kejahatan yang paling jahat bukan karena perilaku buruk orang jahat, namun justru orang baik yang diam saja melihat ketidakadilan dan kebenaran yang tergadai. Hari ini Tuhan mengajak kita untuk merenungkan bahwa Ia mampu menjadikan apapun bisa terjadi. Orang bisu bisa berbincang orang tuli bisa berbicara. Kepercayaan Yahudi bahwa kejadian tersebut hanya ada pada Mesias.
Bahasa simbolis yang hendak menyatakan perbuatan besar itu. Ada kontradiksi di mana Yesus melarang orang yang disembuhkan tersebut untuk mengatakan apa yang terjadi, namun mereka yang bisu dijadikan-Nya untuk berbicara demikian juga yang tuli bisa mendengar.
Saudara terkasih, tuli dan bisu juga bisa berarti bahwa kita hanya diam dan pura-pura tidak mendengar kalau ada ketidakadilan dan kebenaran yang tergadaikan. Sikap ini perlu kehadiran Tuhan untuk mengubah keadaan sehingga kita mampu untuk mendengar dan berbicara. Berbicara bukan hanya asal berbicara namun mengatakan kebaikan dan kebenaran. Mendengarkan apa yang baik bukan hanya untuk mendengarkan apa yang buruk dan jelek saja. Mulut dan telinga untuk dipakai memuliakan dan memuji Allah dan menjaga martabat sesama sebagaimana diri sendiri. Mengatakan dengan apa adanya dan mendengar penuh seleksi demi kebaikan semuanya.BD.eLeSHa.


Sabtu, 05 September 2015

Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.

Sabtu Biasa, Pekan XXII (H)
Kol. 1:21-23
Mzm. 54:3-4,6,8
Luk. 6:1-5


Kol. 1:21-23

1:21 Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat,
1:22 sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.
1:23 Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya


Luk. 6:1-5

6:1 Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.
6:2 Tetapi beberapa orang Farisi berkata: "Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"
6:3 Lalu Yesus menjawab mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,
6:4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?"
6:5 Kata Yesus lagi kepada mereka: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."



Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.

Saudara terkasih, hari ini Gereja mengajak kita merenungkan Siapa Dia melalui perbuatan-Nya. Hari ini, kita disuguhi kisah bagaimana kaum Farisi tidak langsung mendebat Tuhan, namun menyalahkan apa yang dilakukan para murid. Yesus tidak menjawab apa yang mereka persoalkan, karena itu berkaitan dengan tradisi dan aa Taurat yang jauh lebih esensial. Dia mengambil kisah Daud yang kelaparan dan meminta makan, sedang imam yang ada hanya memiliki roti sajian, dan itu yang dimakan Daud dan prajuritnya, padahal dia bukan imam. Tuhan mengajak kita merenungkan bahwa ritual tidak bisa mengalahkan hal yang esensial. Seorang ibu menanyakan rosario bersama itu benarnya memutar searah jarum jam atau berbalik dengan arah jarum jam. Sering kita terjebak dengan hal yang tidak mendasar namun lebih menjadi perhatian.
Ritual baik dan penting, namun bukan segala-galanya. Apa yang kita lakukan itu membantu kita lebih dekat kepada Tuhan atau malah sebaliknya. Bagaimana kita meributkan cara sedangkan hati kit menjadi jengkel karena tidak sesuai dengan apa yang menjadi kebiasaan kita. Baik bahwa manusia itu taat pada hukum, aturan, dan tradisi, namun bukan segala-galanya. Kebaikan Tuhan mengatasi apapun yang menjadi perintang hadir di hadapan-Nya. Yesus Tuhan atas hari Sabat, di mana ikatan-ikatan yang membelenggu IA patahkan.BD.eLeSHa.

Jumat, 04 September 2015

Hal Berpuasa

 Jumat Biasa Pekan XXII (H)
Kol. 1:15-20
Mzm. 100:2,3,4,5
Luk. 5:33-39

Kol. 1:15-20

1:15 Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,
1:16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
1:17 Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
1:18 Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
1:19 Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,
1:20 dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
Luk. 5:33-39

5:33 Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum."
5:34 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?
5:35 Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa."
5:36 Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.
5:37 Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur.
5:38 Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.
5:39 Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."


Hal Berpuasa

Puasa merupakan kebiasaan seleh dan sehat. Dalam konteks kali ini, Farisi yang memegang teguh bahkan kaku akan kebiasaan adat istiadat menanyakan kepda Yesus mengapa murid-Nya tidak berpuasa. Selain Farisi  murid Yohanes Pembaptis juga mengadakan puasa wajib dalam tradisi mereka juga adanya puasa tambahan. Puasa ini berkaitan dengan pertobatan.
Yesus menjawab pertanyaan itu mengenai adanya mempelai, tidak ada orang berpuasa ketika ada pernikahan yang berkaitan dengan pesta. Hanya orang yang pamer dan mencari perhatian ada pesta tidak makan dan menyatakan sedang berpuasa. Yesus sebagai mempelai menghadirkan sukacita, tidak pantas orang dalam keadaan sukacita malah berpuasa. Ada waktu di mana ketika Yesus itu sudah tidak ada di sana, itulah waktu untuk murid-murid-Nya berpuasa.
Saudara terkasih mengenai hal yang baru, yaitu kain atau anggur baru, bahwa Yesus itu hadir dengan kebaharuan. Baru yang tidak mampu dimengerti oleh yang lama. Yesus melihat bahwa mereka perlu memiliki “jaringan atau signal” baru yang sama untuk bisa mengikuti Yesus dan mengerti apa yang menjadi kehendak-Nya. Pribadi baru yang perlu meninggalkan yang lama, bukan baru dalam hal-hal yang lahiriah semata namun yang bersifat rohani dan spiritual. Mengenal Yesus lebih utama daripada hanya berpuasa yang sering lepas maknanya karena masih mengandung emosi dan iri hati.
Saudara terkasih mengikuti Yesus berarti seperti Diri-Nya yang rendah hati dan terbuka akan kehendak Allah bukan hanya kehendak dan kesenangan diri sendiri. BD.eLeSHa.


Kamis, 03 September 2015

Panggilan Murid itu Ketaatan dan Kepatuhan kepada Tuhan

Pw. S. Gregorius Agung, PausPujG (P)
Kol. 1:9-14
Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6
Luk. 5:1-11


Kol. 1:9-14

1:9 Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,
1:10 sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah,
1:11 dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar,
1:12 dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.
1:13 Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;
1:14 di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.

Luk. 5:1-11

5:1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.
5:2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.
5:3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
5:4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."
5:5 Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."
5:6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.
5:7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.
5:8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."
5:9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap;
5:10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."
5:11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.


Panggilan Murid itu Ketaatan dan Kepatuhan kepada Tuhan

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan sabda Tuhan mengenai panggilan para murid juga berkaitan dengan kita. Bagaimana Tuhan menghendaki kita untuk selalu datang kepada-Nya. Panggilan para murid terutama Petrus hari ini, bagaimana ia melakukan apa yang telah semalam ia lakukan dengan sia-sia sepanjang malam. Taat, setia, dan patuh mejadi jawaban akan sapaan Allah.
Petrus yang melihat hasil secara luar biasa membuatnya jatuh tersungkur dan merasa tidak pantas dan berdosa, Tuhan tidak melihat kedosaan dan kelemahan Petrus namun kemauannya melakukan apa yang Tuhan kehendaki.

Saudara terkasih, bagaimana kita sering merasa takut, ragu, khawatir, dan cemas dengan banyak hal, sedangkan Tuhan telah memberikan jamainan. Kemauan kita untuk setia, taat, dan patuh pada kehendak Tuhan. Apa yang kita cemaskan adalah karena kita tidak mau patuh pada rencana-Nya dna menjalankan rencana dan keinginan kita sendiri. Ringan dan lancar sepanjang kita menjalankan seturut kehendak-Nya. Lihat bagaimana Petrus dan kawan-kawan yang sepanjang malam berbuat dan bekerja keras tanpa hasil, namun dengan menjalankan kehendak-Nya hasil berkebalikan diperoleh. Panggilan itu berasal dari DIA dan kita diharapkan menjawab YA. Apapun jalan hidup kita, karya kita, dan cara hidup kita, asal kita mengajalankan dalam rancangan Tuhan, semua akan terjadi. BD.eLeSHa.  

Rabu, 02 September 2015

Di Kota Lain Aku juga Harus Memberitakan Kerajaan Allah

Rabu Biasa Pekan XXII (H)
Kol.1:1-8
Mzm. 52:10,11
Luk. 4:38-44


Kol.1:1-8

1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara kita,
1:2 kepada saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, menyertai kamu.
1:3 Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu,
1:4 karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus,
1:5 oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil,
1:6 yang sudah sampai kepada kamu. Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia, demikian juga di antara kamu sejak waktu kamu mendengarnya dan mengenal kasih karunia Allah dengan sebenarnya.
1:7 Semuanya itu telah kamu ketahui dari Epafras, kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia.
1:8 Dialah juga yang telah menyatakan kepada kami kasihmu dalam Roh.


Luk. 4:38-44

4:38 Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia.
4:39 Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.
4:40 Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.
4:41 Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.
4:42 Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka.
4:43 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus."
4:44 Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.


Di Kota Lain Aku juga Harus Memberitakan Kerajaan Allah

Saudara terkasih, beberapa hari ini kita merenungkan bahwa Yesus ditolak untuk mewartakan kerajaan Allah, namun bukan halangan bagi-Nya. Hari ini kita diajak untuk melihat bahwa penerimaan juga bukan keinginan Tuhan, di mana Ia akan mendapatkan segalanya. Bukan itu misi-Nya, namun ialah memberitakan Injil Kerajaan Allah ke manapun Tuhan Allah menghendaki.
Menarik ialah bahwa orang Kapernaum menginginkan Yesus untuk diam tetap bagi mereka. Fenomena ini juga terjadi, bagaimana kalau romo itu baik akan kita gondheli agar tidak dipindah, protes ke bapak uskup pun bisa terjadi agar imamnya tidak dipindah, sebaliknya, kalau gembalanya itu menjengkelkan, akan menulis surat penolakan. Oleh karena itu, sering keuskupan tidak merespons begitu saja usulan-usulan karena biasanya subyektif dan emosional. Misi yang jauh lebih besar dipengaruhi kepentingan sesaat umat. Sikap egois dan mencari enak sendiri dan biar orang lain, tidak mau berbagi dan tidak memikirkan bagaimana rasanya umat lain juga menerima kebaikan itu.

Saudara terkasih, umat di Kapernaum merupakan cerminan bagi kita, dan juga sering tanpa sadar kita sebagaimana mereka, menggerutu dengan imam tertentu dan memfavoritkan imam yang lain. Melupakan apa yang kita ikuti yaitu Tuhan Yesus. Kita beriman kepada Yesus bukan imam dan juga bukan gereja kan? Apa yang kita cari ialah Ia dan kehendak-Nya.BD.eLeSHa.

Selasa, 01 September 2015

Di Kapernaum, Yang Kudus dari Allah

Selasa Biasa Pekan XXII (H)
1 Tes. 5:1-6,9-11
Mzm. 27:1,4,14-14
Luk. 4:31-37


1 Tes. 5:1-6,9-11

5:1 Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu,
5:2 karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.
5:3 Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman -- maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin -- mereka pasti tidak akan luput.
5:4 Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri,
5:5 karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.
5:6 Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.
5:1 Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu,
5:2 karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.
5:3 Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman -- maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin -- mereka pasti tidak akan luput.
5:4 Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri,
5:5 karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.
5:6 Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.
5:9 Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita,
5:10 yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.
5:11 Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan


Luk. 4:31-37

4:31 Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat.
4:32 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa.
4:33 Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras:
4:34 "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah."
4:35 Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya.
4:36 Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: "Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar."
4:37 Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.


Di Kapernaum, Yang Kudus dari Allah

Saudara terkasih, setelah kemarin Yesus ditolak di Nazareth, hari ini kita merenungkan karya dan pewartaan-Nya di Kapernaum. Sikap penolakan tidak berbeda. Kekaguman mereka atas kuasa dan karya-Nya dalam hal ini mengusir roh jahat membuat mereka kagum. Kekaguman yang tidak menanyakan sebagaimana di Nazareth kampung-Nya sendiri. Penolakan yang diwakili oleh roh jahat yang merasuki, tidak menghambat karya dan pewartaan-Nya.
Saudara terkasih, mengikuti-Nya sama juga menerima apa yang Ia terima. Penolakan bukan akhir dari karya dan pewartaan kita. Apalagi kita manusia, Tuhan saja ditolak. Menerima penolakan kita ingat bagaimana Tuhan juga menerima penolakan juga berkali-kali. Mukjizat telah dibuat, kata-kata penuh kuasa telah mereka dengar, namun sikap manusia yang tidak suka melihat orang bahagia dan senang melihat derita orang lain lebih dominan.


Kata-kata yang membuat takjub dan heran memang menarik. Mengikuti Yesus bukan hanya sebatas tertarik akan perbuatan besar-Nya namun mengikut DIA ke mana pun Ia melangkah. Melangkah dengan segala hal yang akan terjadi, penolakan, pengusiran, dan aniaya. Saudara terkasih, ikut DIA secara utuh dan purna bukan setengah-setengah atau sebagian, apalagi hanya enaknya saja. Teladan kita banyak dan ketika mereka mampu, apakah kita tidak mampu? Pasti mampu dan tinggal kita mau atau tidak. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan karena ada DIA yang menyelesaikan, karena DIA Orang Nazareth, Yang Kudus dari Allah. BD.eLeSHa.